Alasan Rasional Mengapa Kambing Dipilih Menggantikan Ismail sebagai Hewan Kurban
Jakarta, PANGKEP NEWS Indonesia – Pada pagi hari itu, Nabi Ibrahim bangun dengan jantung berdebar keras. Malam sebelumnya, dia bermimpi hal yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya: melihat dirinya sendiri menyembelih putranya, Ismail.
Bagi Ibrahim, mimpi ini lebih dari sekadar bunga tidur. Dia paham bahwa mimpi para nabi adalah wahyu. Dengan tekad kuat meski hatinya berat, dia menemui Ismail dan menceritakan hal tersebut.
“Anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka bagaimana pendapatmu?” (Surat As-Saffat: 102).
Ismail adalah anak yang ditunggu-tunggu oleh Ibrahim selama bertahun-tahun setelah menikahi Siti Hajar. Mimpi itu jelas mengguncang harapannya. Setelah mendengar cerita tersebut, Ismail merespon dengan tenang dan penuh keyakinan tanpa ada penolakan.
“Ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapati aku termasuk orang yang sabar.” (Surat As-Saffat: 102).
Keduanya kemudian berjalan menuju tempat penyembelihan. Saat Ibrahim membaringkan Ismail dan mengangkat pisau, sebuah seruan datang dari Allah.
“Wahai Ibrahim, sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.” (Surat As-Saffat: 102).
Allah kemudian memerintahkan Ibrahim untuk menggantikan Ismail dengan seekor hewan sembelihan yang besar. Maka, Ibrahim memilih untuk menyembelih kambing (atau dalam beberapa sumber disebut domba).
Dari sinilah tradisi kurban pada Hari Raya Idul Adha dimulai, yang kemudian identik dengan kambing, domba, dan sapi. Allah dalam Surat Al-Hajj ayat 34 juga berfirman bahwa, “bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), agar mereka menyebut nama Allah atas binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka”.
Mengapa Ibrahim Menggantikan Ismail dengan Seekor Kambing?
Pemilihan kambing bukanlah kebetulan. Ini sangat relevan dengan kondisi sosial dan budaya tempat tinggal Nabi Ibrahim.
Dibandingkan hewan lain, kambing atau domba adalah hewan pertama yang didomestikasi atau dijinakkan sebagai ternak di Timur Tengah. Proses domestikasi ini diperkirakan terjadi sekitar tahun 8000 SM di wilayah Mesopotamia yang kini meliputi Iran dan Irak.
“Kambing tampaknya adalah spesies pertama yang didomestikasi sebagai ternak sekitar tahun 8000 SM di daerah Mesopotamia, yang sekarang dikenal sebagai Timur Tengah,” ungkap penelitian “The Goat in Ancient Civilisations: from the Fertile Crescent to the Aegean Sea” (2004).
Antropolog Marvin Harris dalam Sapi, Babi, Perang, dan Tukang Sihir (2019) menjelaskan bahwa kondisi geografis Timur Tengah sangat mendukung untuk pengembangbiakan kambing. Wilayah ini didominasi oleh dataran dan perbukitan kering yang tidak cocok untuk pertanian basah, tetapi sangat ideal untuk ternak seperti kambing dan domba.
Kambing dan domba memiliki keunggulan biologis yang memungkinkannya beradaptasi di lingkungan seperti itu.
“Hewan-hewan seperti sapi, domba, dan kambing memiliki kantung di perut yang memungkinkannya mencerna rumput, dedaunan, dan makanan lain yang terutama mengandung selulosa dengan lebih efisien dibandingkan mamalia lain,” jelas Harris.
Selain itu, kambing juga dianggap sebagai hewan serbaguna. Bagian dari tubuhnya dapat dimanfaatkan oleh manusia, seperti susu dan kulit. Oleh karena itu, hewan ini menjadi bagian dari budaya di Timur Tengah dan banyak dibudidayakan.
Salah satu penggembala kambing yang paling terkenal adalah seorang pemuda dari suku Quraisy bernama Muhammad, yang kelak menjadi nabi terakhir.
Menurut autobiografi berjudul Muhammad Sang Nabi: Sebuah Biografi Kritis (2011), Muhammad pada awalnya bekerja sebagai penggembala kambing. Pekerjaan ini penting karena pemilik kambing membutuhkan penggembala agar ternak mereka bisa mendapatkan rumput secara teratur.
Berangkat dari alasan inilah, masuk akal apabila Nabi Ibrahim memilih kambing sebagai pengganti penyembelihan putranya. Sebab, kambing atau domba adalah hewan yang paling mudah ditemukan di Timur Tengah. Begitu pula dengan alasan mengapa Nabi Muhammad memilih menjadi penggembala kambing sebagai pekerjaan pertamanya.