Jakarta, PANGKEP NEWS
Kejujuran telah membawa seorang remaja menerima hadiah bernilai miliaran rupiah. Peristiwa ini menimpa Seger (15), seorang siswa SMP dari Kediri, Jawa Tengah.
Pada tahun 1989, Seger memperoleh penghargaan setara miliaran rupiah dari Presiden Soeharto berkat kejujurannya yang luar biasa.
Melihat kembali 66 tahun yang lalu, Seger (15) menghabiskan liburan sekolahnya di sawah milik Zaini, di Kediri, Jawa Timur. Namun, ia tidak ke sana untuk bermain. Seger bekerja sebagai buruh tani, mencangkul tanah untuk mendapatkan uang.
Posisinya saat itu cukup sulit. Ia menghadapi ancaman putus sekolah karena tunggakan biaya pendidikan selama dua bulan. Rapor ditahan dan tekanan dari sekolah semakin menghantui.
“Saya sampai terbawa mimpi. Kepala sekolah meminta saya segera melunasi SPP. Perasaan saya kacau sekali,” kata Seger dalam wawancaranya dengan Kompas (2 Desember 1989), dikutip Minggu (3/8/2025).
Setiap hari selama liburan, ia mencangkul sawah dari pagi hingga sore. Hingga akhirnya, pada 21 Juni 1989, sebuah kejadian tak terduga terjadi. Saat menggali tanah sedalam setengah meter, cangkulnya mengenai benda keras. Bukan batu, melainkan logam yang mengeluarkan bunyi nyaring, seperti dentingan.
Karena penasaran, Seger menggali lebih dalam. Ia terkejut saat menemukan sebuah benda pipih berlapis emas yang dihiasi permata dan berlian.
Seger segera memanggil dua temannya. Bersama-sama, mereka membawa penemuan tersebut ke kantor polisi. Tidak butuh waktu lama, kabar ini menyebar cepat dan menggemparkan masyarakat.
Mendapatkan Uang dari Presiden
Seger sebenarnya bisa saja menyembunyikan penemuannya dan menjualnya diam-diam. Namun, ia memilih untuk jujur. Itulah yang membuat banyak orang terkesan dengan integritasnya.
Benda yang ia temukan ternyata bukan sembarangan. Beratnya mencapai 1,2 kilogram, terbuat dari emas murni dan dihiasi 48 butir permata serta berlian. Para ahli menduga artefak ini berasal dari masa akhir Kerajaan Majapahit.
Nilai materiilnya saja sangat tinggi. Emas 1,2 kilogram di masa kini setara miliaran rupiah. Belum lagi nilai permata, berlian, dan faktor sejarah yang tak ternilai harganya.
Atas sikap jujurnya, Seger menerima sejumlah penghargaan. Harian Suara Karya (2 Desember 1989) melaporkan, Presiden Soeharto melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Fuad Hasan memberikan uang sebesar Rp19,7 juta.
Pangdam Brawijaya menyumbang Rp140 ribu dan Pemda Kediri menambahkan Rp1,12 juta. Sementara pemilik sawah, Zaini, mendapat uang Rp9 juta.
Tidak hanya itu, Seger juga mendapat beasiswa pendidikan hingga ke perguruan tinggi. Jika dijumlahkan, Seger menerima sekitar Rp20 juta.
Menurut Suara Pembaruan (8 Januari 1989), harga emas kala itu adalah Rp24 ribu per gram. Artinya dengan uang Rp20 juta Seger bisa membawa pulang 833 gram emas.
Dengan harga emas saat ini yang mencapai Rp1,8 juta per gram, nilai 833 gram emas kini setara dengan Rp1,1 miliar. Seger pun sah menjadi miliarder pada masanya.
Kejujuran Seger mungkin tidak memberinya kekayaan instan, tetapi memberikan warisan moral yang abadi, yakni kejujuran.
“Entah apa jadinya kalau ditemukan di Jakarta. Semoga Ananda Seger bisa menjadi contoh bagi penemu lain,” ujar Mendikbud Fuad Hassan kala itu.