AS Memberikan Kabar Baik: IHSG Meriah, Kapan Rupiah Akan Kuat?
Jakarta – Pasar keuangan Indonesia mencatatkan hasil yang beragam pada perdagangan sebelumnya. Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat mendekati angka 7.000, nilai tukar rupiah justru melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Peredaan ketegangan perang dagang antara AS dan China justru mendorong penguatan indeks dolar.
Pada hari ini, pergerakan IHSG dan rupiah diharapkan akan menguat. Ada sejumlah sentimen yang dapat memberikan dorongan bagi pasar keuangan, baik dari dalam maupun luar negeri. Lebih lanjut mengenai sentimen dan proyeksi pasar hari ini dapat dibaca pada halaman 3 artikel ini. Para investor juga dapat melihat agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini baik di dalam negeri maupun luar negeri pada halaman 4.
IHSG pada perdagangan sebelumnya, Rabu (14/5/2025), mengalami kenaikan sebesar 2,15% atau 147 poin, mencapai level 6.979,88. Ini adalah penguatan tertinggi sejak 6 Februari 2025. Hanya beberapa poin lagi yang diperlukan IHSG untuk menembus level psikologis 7.000.
Sebanyak 418 saham mengalami kenaikan, 218 saham menurun, dan 166 saham tidak bergerak. Nilai transaksi tercatat ramai, mencapai Rp 17,71 triliun yang melibatkan 29,90 miliar saham dalam 1,49 juta kali transaksi.
Mengacu pada data Refinitiv, hampir semua sektor berada di zona hijau, kecuali sektor kesehatan yang mengalami koreksi tipis. Sektor finansial memimpin penguatan dengan kenaikan lebih dari 3,5%, diikuti oleh utilitas yang naik 2,92%, bahan baku 2,39%, properti 2,27%, dan energi 1,61%.
Sentimen positif untuk pasar keuangan terakumulasi selama libur panjang perayaan Waisak. Perang dagang yang berkepanjangan antara AS dan China akhirnya sedikit mereda setelah kedua negara sepakat memangkas tarif impor secara signifikan. Kesepakatan ini mengejutkan banyak pihak karena hasilnya lebih baik dari yang diperkirakan.
Dalam kesepakatan yang dibuat pada Senin (12/5/2025), tarif AS terhadap produk China dipangkas dari 145% menjadi 30%, dan tarif China terhadap produk AS turun dari 125% menjadi 10% selama 90 hari ke depan.
Bergerak ke mata uang rupiah, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Rabu (14/5/2025) ditutup pada posisi Rp16.545/US$, melemah 0,21%. Rupiah belum menunjukkan penguatan meskipun terdapat banyak sentimen positif. Dalam lima perdagangan terakhir, nilai tukar rupiah melemah sebanyak empat kali dan hanya sekali menguat.
Kelemahan rupiah terjadi setelah Presiden AS Donald Trump kembali menyerukan pemangkasan suku bunga menyusul data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan pada hari Selasa. Trump kembali menuduh Ketua Federal Reserve Jerome Powell “terlambat” menurunkan suku bunga melalui platform Truth Social miliknya.
Inflasi AS menurun menjadi 2,3% (year on year/yoy) pada bulan April dibandingkan dengan 2,4% yang diharapkan oleh para ekonom dalam survei WSJ. Penurunan dolar setelah data tersebut terlihat logis mengingat prospek pemangkasan suku bunga yang lebih cepat, ungkap Thu Lan Nguyen dari Commerzbank dalam sebuah catatan.
Selain itu, pasar juga merespons peredaan perang dagang antara AS dan China yang sedikit mereda setelah kedua negara sepakat memotong tarif impor secara signifikan. Kesepakatan ini mengejutkan banyak pihak karena hasilnya lebih baik dari yang diperkirakan.
Dalam kesepakatan yang dicapai pada Senin (12/5/2025), tarif AS terhadap produk China dipangkas dari 145% menjadi 30%, dan tarif China terhadap produk AS turun dari 125% menjadi 10% selama 90 hari ke depan.
Di pasar obligasi Indonesia, pada perdagangan Rabu (14/5/2025), imbal hasil obligasi tenor 10 tahun terpantau melemah 0,03% di level 6,787%.
Pelemahan imbal hasil obligasi menandakan bahwa para pelaku pasar sedang kembali mengumpulkan surat berharga negara (SBN). Sebaliknya, imbal hasil obligasi yang menguat menunjukkan bahwa para pelaku pasar sedang melepaskan surat berharga negara (SBN).