AS Tawarkan Rp814 Miliar untuk Penangkapan Tokoh Ini
Jakarta – Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengumumkan hadiah luar biasa sebesar US$50 juta, yang setara dengan Rp814 miliar, bagi siapa saja yang berhasil menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro.
Jumlah ini merupakan dua kali lipat dari tawaran sebelumnya yang berjumlah US$25 juta yang diberikan pada masa pemerintahan Trump awal tahun ini.
Pemerintah Washington menuduh Maduro sebagai salah satu pengedar narkoba terbesar di dunia, yang bersekongkol dengan kartel internasional untuk mengirimkan kokain yang dicampur fentanyl ke AS.
Jaksa Agung AS, Pam Bondi, mengatakan bahwa Maduro bekerja sama dengan kelompok kejahatan Venezuela Tren de Aragua, Cartel of the Suns, dan kartel narkoba Sinaloa yang berasal dari Meksiko.
“Maduro adalah salah satu pengedar narkoba paling berbahaya di dunia dan ancaman bagi keamanan nasional kami. Oleh sebab itu, kami meningkatkan tawaran hadiah menjadi US$50 juta,” jelas Bondi, berdasarkan laporan yang diterima PANGKEP NEWS, Sabtu (9/8/2025).
“Di bawah kepemimpinan Presiden Trump, Maduro tidak akan lolos dari keadilan dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kejahatannya yang keji,” tambah Bondi.
Bondi juga mengungkapkan bahwa Departemen Kehakiman AS telah menyita lebih dari US$700 juta aset yang terkait dengan Maduro, termasuk dua pesawat jet pribadi, sembilan kendaraan, serta berton-ton kokain yang dikaitkan langsung dengan presiden tersebut.
Menanggapi tuduhan itu, pemerintah Venezuela langsung memberikan balasan. Menteri Luar Negeri Yvan Gil menilai langkah AS sebagai “asap pengalih perhatian yang paling konyol” dan menuduhnya sebagai upaya untuk mengalihkan perhatian dari kontroversi Jeffrey Epstein di AS.
“Martabat tanah air kami tidak untuk dijual. Kami menolak operasi propaganda politik yang kasar ini,” tegasnya.
Maduro telah didakwa di pengadilan federal AS sejak 2020 selama masa jabatan pertama Trump, bersama sejumlah pejabat senior Venezuela, atas tuduhan perdagangan narkoba.
Pada waktu itu, AS menawarkan hadiah sebesar US$15 juta untuk penangkapannya. Jumlah itu kemudian dinaikkan oleh pemerintahan Biden menjadi US$25 juta, yang sama dengan tawaran untuk penangkapan Osama bin Laden setelah serangan 11 September 2001.