Jakarta, PANGKEP NEWS
Merasa lapar atau lapar secara emosional adalah dua hal yang berbeda. Meski begitu, beberapa orang mengalami kesulitan dalam membedakan antara lapar sejati dan lapar yang muncul karena dorongan sementara.
Makan sebagai respons terhadap perasaan dikenal sebagai makan emosional. Hampir setiap orang pernah melakukannya, dan jika Anda mengikuti rasa lapar ini, Anda akan makan meski tubuh tidak benar-benar membutuhkan makanan.
Bagi beberapa orang, rasa lapar ini sering kali timbul secara mendadak, dan ketika itu terjadi, Anda merasa ingin segera makan, bahkan bisa merasa bersalah setelah selesai makan.
Contoh lainnya adalah makan karena stres, lapar karena mencium aroma lezat, atau melihat hidangan yang menggugah selera.
Mengetahui apakah lapar itu nyata atau tidak memungkinkan Anda membuat keputusan yang sadar tentang kapan, apa, dan bagaimana Anda makan. Kadang-kadang, makanan bisa menjadi bagian dari cara kita menghadapi emosi yang kuat.
Penyebab Lapar Palsu
Banyak hal bisa memicu keinginan untuk makan. Alasan eksternal umum untuk makan karena emosi termasuk stres pekerjaan, kekhawatiran finansial, masalah kesehatan, dan masalah dalam hubungan.
Selain itu, mereka yang mengikuti diet ketat atau memiliki sejarah diet lebih mungkin makan karena emosi.
Penyebab internal lainnya termasuk:
– kurangnya kesadaran introspektif (menyadari apa yang Anda rasakan)
– alexithymia (kurang kemampuan untuk memahami, memproses, atau menggambarkan emosi)
– disregulasi emosi (ketidakmampuan mengelola emosi)
– sumbu stres hipotalamus pituitari adrenal (HPA) terbalik (respon kortisol yang kurang aktif terhadap stres)
Makan karena emosi sering kali menjadi perilaku otomatis. Semakin sering makanan digunakan untuk mengatasi masalah, semakin kuat kebiasaan tersebut terbentuk.
Lapar Palsu Bukan Gangguan Makan
Makan karena emosi sendiri bukanlah gangguan makan, namun bisa menjadi indikasi dari gangguan makan yang lebih serius.
Gangguan pola makan dapat meliputi:
– sangat ketat dalam memilih makanan
– memberi label pada makanan sebagai ‘baik’ atau ‘buruk’
– sering melakukan diet atau pembatasan makanan
– sering makan karena emosi, bukan lapar fisik
– waktu makan yang tidak teratur
– pikiran obsesif tentang makanan yang mengganggu kehidupan sehari-hari
– menganggap makanan tertentu ‘tidak sehat’
Menurut Academy of Nutrition and Dietetics, gangguan makan didiagnosis ketika pola makan seseorang memenuhi kriteria tertentu. Banyak orang memiliki kebiasaan makan yang tidak teratur tetapi tidak memenuhi kriteria untuk gangguan makan.
Anda tidak perlu didiagnosis dengan gangguan makan untuk mencari bantuan. Anda berhak memiliki hubungan yang sehat dengan makanan. Jika Anda merasa memiliki kebiasaan makan yang tidak teratur, konsultasikan dengan profesional kesehatan mental atau ahli diet terdaftar.
Rasa Lapar Emosional vs Rasa Lapar Fisik
Anda mungkin bertanya-tanya bagaimana cara membedakan antara rasa lapar emosional dan lapar fisik. Ini bisa jadi tidak mudah. Kadang-kadang, kedua jenis lapar ini dapat terjadi bersamaan.
Jika Anda belum makan dalam beberapa jam, atau pada umumnya tidak makan cukup dalam sehari, kemungkinan Anda mengalami makan emosional.
Berikut beberapa petunjuk untuk membantu Anda membedakannya. Orang yang mengalami makan emosional mungkin merasa:
– tidak terkendali saat makan makanan tertentu
– dorongan untuk makan saat mereka merasakan emosi yang kuat
– dorongan untuk makan bahkan ketika tidak lapar secara fisik
– makanan terasa menenangkan atau memberi mereka hadiah