Cara Perempuan Mengatasi Stereotip di Dunia Pertambangan
Jakarta, PANGKEP NEWS – Tenaga kerja perempuan sering kali mendapat stereotip negatif. Beberapa di antaranya adalah anggapan bahwa perempuan kurang kompeten dalam posisi kepemimpinan, lebih emosional dalam pengambilan keputusan, dan lebih sesuai untuk pekerjaan domestik.
Stereotip ini dapat mengakibatkan perempuan mengalami diskriminasi, kesulitan dalam promosi, dan tekanan untuk membuktikan kemampuan mereka. Hal ini juga mempengaruhi cara perempuan memandang diri mereka sendiri dan kemampuan yang dimiliki.
Menurut Melati Sarnita, Direktur Pengembangan Usaha INALUM, stereotip semacam ini sebaiknya diabaikan. Dia menekankan bahwa tempat kerja menawarkan persyaratan yang sama untuk laki-laki dan perempuan.
Saat berbicara dalam acara Top Women Fest PANGKEP NEWS 2025, Melati mengatakan, “Saya lebih fokus pada apa yang bisa saya lakukan daripada mendengarkan pendapat orang lain, karena saya yakin persyaratan kerja sama bagi semua. Tidak ada perbedaan. Jadi semua orang memulai dari dasar yang sama.”
Seperti yang diketahui, industri pertambangan sering kali didominasi oleh tenaga kerja pria karena karakteristik industri ini yang memerlukan kekuatan fisik dan lingkungan kerja yang kerap dianggap keras dan menantang.
Namun, kenyataannya, semakin banyak posisi di sektor ini yang dapat diisi oleh perempuan. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, pada Februari 2024, partisipasi angkatan kerja wanita meningkat menjadi 55,41% atau naik sekitar 1% dibanding tahun sebelumnya.
Dalam lima tahun terakhir, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan terendah ada di tahun 2021, dengan persentasenya sebesar 54,03%.
Melati menambahkan bahwa stereotip yang sering kali menjadi masalah perlu dihadapi secara personal.
“Menurut saya, semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk berkompetisi. Namun, stereotip tersebut harus kita kalahkan dengan usaha kita sendiri,” tegas Melati.