Kepala Bulog Umumkan Gudang Hampir Penuh dengan 1,7 Juta Ton Beras
Jakarta, PANGKEP NEWS – Perum Bulog menyatakan bahwa saat ini gudang-gudang penyimpanan beras mereka hampir penuh. Meskipun demikian, Direktur Utama Bulog, Novi Helmy Prasetya menegaskan bahwa pihaknya akan terus menyerap gabah dan beras hasil panen petani lokal.
“Saat ini ada beberapa gudang Bulog yang sudah penuh dengan stok. Namun, kami tetap menjalin kerja sama dengan BUMN atau instansi lain yang bisa menyediakan gudang untuk menyimpan beras,” ungkap Novi dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI pada Selasa (29/4/2025).
Novi menekankan bahwa tidak semua tempat bisa digunakan untuk menyimpan beras. Gudang penyimpanan beras harus memenuhi standar tertentu agar kualitas beras tetap terjaga.
“Bagi orang awam mungkin berpikir ‘itu ada gudang, kenapa tidak ditaruh di situ?’. Saya ingin menyampaikan bahwa gudang penyimpanan beras harus ada standarnya. Karena yang disimpan adalah beras, komoditas yang mudah rusak,” jelasnya.
Saat ini, total kapasitas gudang Bulog untuk menyimpan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) mencapai 4.929.760 ton, terdiri dari 3.255.898 ton gudang operasional Bulog, 1.161.490 ton gudang sewa dan filial, serta 512.372 ton dalam kategori ruang rusak.
Lebih lanjut, Novi juga mengungkapkan bahwa strategi penyerapan beras Bulog saat ini sedikit berbeda, di mana Bulog memilih fokus pada penyerapan gabah kering panen (GKP) daripada langsung membeli beras dari petani atau penggilingan.
“Saya bilang ke anak-anak, pinwil, dan pinca, tidak ada alasan. Kita harus menyerap gabah. Jika mengalami kesulitan karena gudang penuh, cari tempat sewa sesuai ketentuan. Serapan harus tetap berjalan di lapangan,” tegas Novi.
Menurutnya, langkah ini diambil untuk memberdayakan petani lebih baik dan memastikan harga jual gabah tetap kompetitif selama panen raya.
Berdasarkan data terbaru hingga 28 April 2025, Novi menyatakan, Bulog telah menyerap 2.058.470 ton gabah dan 563.518 ton beras. Jika dikonversi, total serapan Bulog setara dengan 1,7 juta ton beras, atau 57,9% dari target 3 juta ton beras. Angka ini disebut sebagai rekor sepanjang sejarah berdirinya Bulog sejak tahun 1967.
“Ini adalah serapan gabah terbesar sejak Bulog berdiri. Artinya, kita berpihak kepada petani. Saya lihat di media, petani bahagia. Kalau petani bahagia, kita juga bahagia,” ungkap Novi.
Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, selama Januari-April 2025, luas lahan panen nasional mencapai 4,57 juta hektare. Dimana produksi gabah kering panen diperkirakan sebesar 29,07 juta ton, dan beras sekitar 13,99 juta ton.
Di sisi lain, stok beras yang saat ini dikuasai Bulog tercatat sebesar 3.306.486 ton. Angka ini disebut sebagai salah satu cadangan terbaik yang pernah dimiliki negara dalam periode yang sama.
“Ini adalah stok terbaik pada bulan yang sama. Kami terus menjaga cadangan pangan nasional untuk negara,” tutup Novi.