Jakarta, PANGKEP NEWS
Rumor beredar bahwa Presiden Sukarno memiliki emas seberat 57 ton yang tersimpan di bank Swiss. Hingga kini, spekulasi tersebut masih menyisakan tanda tanya.
Dikabarkan, emas yang dimiliki oleh Sukarno dipinjam oleh Presiden Amerika Serikat (AS) John F. Kennedy pada tahun 1963 untuk pembangunan di Negeri Paman Sam.
Namun, jika merujuk pada pengakuan Sukarno sendiri, cerita tentang kepemilikan emas 57 ton ini sulit dipercaya. Sukarno mengaku bahwa semasa menjabat sebagai pemimpin Indonesia, hidupnya penuh kesulitan.
Dalam wawancara dengan jurnalis Amerika, Cindy Adams, yang menulis biografi "Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia", Sukarno menyatakan bahwa gajinya sebagai presiden hanya US$ 220. Dia juga tidak memiliki rumah ataupun tanah, sehingga wajar jika dia tinggal berpindah dari satu istana negara ke istana lainnya.
Sukarno bahkan mengisahkan pernah dibelikan piyama oleh seorang duta besar saat berkunjung ke luar negeri karena merasa kasihan melihat baju tidur Sukarno yang sudah robek.
"Adakah Kepala Negara yang lebih melarat daripada aku yang sering meminjam uang dari ajudannya?" ucap Sukarno dalam buku Cindy Adams, dikutip Sabtu (21/12/2024).
Mengutip wawancara yang sama, Sukarno pernah hampir menerima gedung yang dibangun secara patungan oleh rakyat, tetapi dia menolak karena tidak ingin merepotkan banyak orang.
Putra sulung Sukarno, Guntur Sukarnoputra, menguatkan pernyataan ayahnya. Dalam opini di Media Indonesia pada 26 September 2020, Guntur menyebut bahwa sejak sebelum menjadi presiden, Sukarno selalu dalam kondisi keuangan yang sempit.
Guntur juga menambahkan bahwa tidak heran jika ayahnya sering meminjam uang dari sahabat-sahabatnya sejak masa pergerakan, seperti Agoes Moesin Dasaad.
"Sebagai presiden, Bung Karno adalah presiden termiskin di dunia ini. Dia tidak punya tanah, rumah, apalagi emas sebagaimana yang sering dibicarakan," ungkap Guntur.
Sejarawan Indonesia, Ong Hok Ham, juga menyangkal rumor tentang harta Sukarno yang melimpah. Dalam tulisannya Kuasa dan Negara (1983), Ong menyajikan fakta sejarah yang menolak klaim bahwa Sukarno mewarisi kekayaan kerajaan Mataram Islam.
Menurut Ong, tidak mungkin seseorang mewarisi harta dari kerajaan kuno, apalagi dalam bentuk batangan emas. Ditambah lagi, kerajaan Mataram Islam pada waktu itu masih berutang kepada VOC.
Ong juga berpendapat bahwa cerita tentang harta Sukarno dapat dengan mudah dibantah: jika benar dia memiliki emas, seharusnya Sukarno tidak hidup dalam kemelaratan hingga akhir hidupnya. Ini berarti cerita tentang harta karun emas batangan presiden pertama Indonesia ini tidak benar.