Daun ‘Surga’ dari Indonesia Menjadi Favorit di Amerika, Ramuan Penambah Vitalitas
Jakarta, PANGKEP NEWS – Indonesia dikenal dengan tanaman herbal kratom (Mitragyna speciosa) yang kini menjadi salah satu komoditas ekspor andalan. Produk ini sangat diminati di berbagai negara, terutama Amerika Serikat.
Kratom merupakan tumbuhan tropis yang tumbuh subur di wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Di Indonesia sendiri, kratom banyak ditemukan di Kalimantan, khususnya di sepanjang aliran Sungai Kapuas.
Daun kratom memiliki dua senyawa aktif utama, yaitu mitragynine dan 7-hydroxymitragynine, yang dikenal memiliki efek analgesik atau pereda nyeri. Sejak lama, tanaman ini digunakan masyarakat Indonesia untuk mengatasi berbagai masalah kesehatan seperti rasa sakit, kelelahan, dan gangguan pencernaan.
“(Kratom) bisa dikonsumsi dalam bentuk minuman, ada yang seperti sirup. Jadi ia dapat diseduh seperti teh, yang diyakini dapat menambah vitalitas tubuh,” ujar Menteri Perdagangan Budi Santoso pada Minggu (4/5/2025).
Pemerintah telah mengatur tata niaga kratom melalui Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 20 Tahun 2024 tentang Barang yang Dilarang untuk Diekspor dan Permendag Nomor 21 Tahun 2024 tentang Kebijakan dan Pengaturan Ekspor. Kedua peraturan ini menetapkan komoditas kratom yang boleh dan tidak boleh diekspor.
Ekspor kratom dalam bentuk bubuk dapat diproses menjadi berbagai produk kesehatan dan herbal. Menteri Perdagangan mengungkapkan bahwa pelepasan ekspor kratom menjadi momen yang sangat dinantikan oleh para pelaku usaha.
“Saya sangat menghargai semua pihak yang telah berkolaborasi dalam mewujudkan aturan tata niaga ekspor kratom sehingga memberikan manfaat bagi para petani dan eksportir kratom. Selamat kepada para pelaku usaha kratom yang berhasil menembus pasar internasional dengan memenuhi standar ekspor yang ditetapkan pemerintah,” ungkapnya.
Data BPS pada 2023 menunjukkan Amerika Serikat sebagai pengimpor utama kratom dari Indonesia, dengan volume mencapai 4.694 ton dan nilai ekspor sekitar US$ 9,15 juta. Sementara itu, data dari Kementerian Perdagangan (Kemendag) menunjukkan DKI Jakarta sebagai pemain utama dalam ekspor kratom, dengan kontribusi mencapai US$ 4,45 juta, atau sekitar 60,75% dari total nilai ekspor.
Kalimantan Barat dan Jawa Timur menyusul di posisi kedua dan ketiga dengan kontribusi yang signifikan. Di pasar internasional, ekstrak kratom dihargai hingga US$ 6.000 per kg.
Namun, kratom menghadapi tantangan terkait legalitasnya di pasar global. Di Amerika Serikat, permintaan kratom terus meningkat meski status legalitasnya masih belum mendapat pengesahan penuh dari Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA).
Kendati demikian, masyarakat AS banyak membeli kratom dan produk berbasis kratom, baik secara online maupun di minimarket, toko serba ada, toko rokok, dan bar, sehingga menjadi industri dengan nilai US$ 1 miliar.
Sementara itu, Jepang dan Jerman mengizinkan penggunaannya dalam batas terbatas. India, dengan kebijakan yang lebih longgar, menjadi salah satu pasar ekspor terbesar. Variasi legalitas ini menuntut perhatian Indonesia dalam menjaga kualitas produk agar dapat memenuhi standar global yang terus berkembang.
Di dalam negeri, DKI Jakarta, Kalimantan Barat, dan Jawa Timur adalah provinsi utama yang mendukung ekspor kratom, menyumbang hampir seluruh nilai ekspor nasional. Ini menunjukkan pentingnya penguatan hilirisasi di wilayah penghasil untuk memastikan keberlanjutan dan pengembangan lebih lanjut dari komoditas ini.
Namun demikian, status perdagangan kratom di dalam negeri masih belum jelas. Mendag Budi mengungkapkan bahwa hingga saat ini belum ada aturan khusus yang mengatur peredaran kratom di pasar domestik.
“Jadi belum ada peraturan yang terkait dengan perdagangan di dalam negeri. Ini kan kebanyakan untuk ekspor semua,” ujar Budi.