Dampak Perang Dagang: Persaingan Diskon Produk di E-commerce
Jakarta – Presiden AS, Donald Trump, tampaknya mulai bersikap lebih lunak dalam penerapan tarif impor terhadap China, yang diisukan akan turun secara signifikan. Pemerintah China pada Rabu (23/4/2025) juga mengungkapkan kesiapan mereka untuk kembali berunding dengan Amerika Serikat.
Dalam sebuah pernyataan pada Selasa, Trump mengakui bahwa tarif AS atas produk China saat ini berada pada tingkat yang sangat tinggi, tetapi menambahkan bahwa tarif tersebut ‘akan berkurang secara signifikan’ jika kesepakatan dagang tercapai antara kedua negara.
Pernyataan ini menjadi indikasi bahwa Gedung Putih masih membuka jalur dialog, meskipun dalam beberapa bulan terakhir tekanan ekonomi terhadap China terus meningkat.
Ketidakpastian global saat ini memaksa merek-merek Fast Moving Consumer Goods (FMCG) di Indonesia untuk lebih adaptif terhadap dinamika pasar, terutama di platform e-commerce.
Situasi tegang ini juga terjadi pada tahun 2024, di mana eskalasi tarif antar negara memengaruhi rantai pasok global, biaya produksi, dan harga barang impor. Dampaknya dirasakan oleh konsumen, terutama dalam kategori perawatan & kecantikan serta produk untuk ibu & bayi.
Compas Market Insight Dashboard, yang memantau aktivitas penjualan e-commerce, menelaah data dari fenomena perang dagang serupa yang terjadi dari Juli hingga Desember 2024 di Tokopedia, Shopee, dan Blibli.
Sebagai contoh, pada periode tersebut, nilai penjualan kategori perawatan & kecantikan mengalami peningkatan dari sebelum perang dagang di tahun 2024 yang sebesar Rp10,18 triliun, naik menjadi Rp10,94 miliar atau meningkat 7,4%.
Produk-produk dalam kategori ini yang nilai penjualannya meningkat antara lain adalah trio basic skincare, yaitu pelembab wajah naik 10,08%, pembersih wajah 8,9%, dan sunscreen 2%.
Selain itu, paket kecantikan dan parfum & wewangian juga mengalami kenaikan pada periode ini, masing-masing tumbuh sebesar 3,9% dan 10,9%.
Berbeda dengan kategori ibu & bayi, meskipun nilai penjualannya juga naik 8,3% selama periode perang dagang, peningkatan ini tidak berlaku untuk semua sub-kategori. Nilai penjualan baby lotion cream justru turun sebesar 5,4%.
Hal ini menunjukkan bahwa persaingan antar merek semakin ketat sebagai respons terhadap tekanan global. Strategi yang diterapkan tidak hanya terbatas pada diskon, tetapi juga mencakup perubahan harga, promosi gimmick, dan penyesuaian format produk bundling.
Salah satu merek terkemuka dalam kategori sunscreen diketahui menurunkan harga rata-rata produknya, strategi ini berhasil meningkatkan jumlah produk terjual lebih dari 62.000 unit dibandingkan kuartal sebelumnya.
Selama periode perang dagang, jumlah produk yang didiskon di official store brand tersebut meningkat dari 50 menjadi 72 Stock Keeping Unit (SKU).
Selain itu, SKU dengan promosi gimmick seperti Beli 2 Dapat 1 juga bertambah dua kali lipat. Namun, tidak semua strategi berjalan mulus, terutama pada skema bundling. Meski jumlah SKU bundling naik dari 26 menjadi 42, nilai penjualannya malah turun tipis sebesar 0,21%.
Sementara itu, dua merek dengan performa terbaik di kategori pelembab wajah dan pembersih wajah mencatat lonjakan penjualan signifikan berkat strategi penurunan harga pada produk-produk unggulan mereka. Merek pelembab wajah berhasil meningkatkan jumlah produk terjual hingga 35,3%, sementara merek pembersih wajah hampir tiga kali lipat hanya dalam tiga bulan.
Di kategori Ibu & Bayi, salah satu merek teratas dalam produk baby lotion cream memilih untuk menaikkan harga jual tanpa menambah diskon atau promosi gimmick. Hasilnya, mereka berhasil meningkatkan penjualan produk unggulan sebesar 9%. Selain itu, jumlah SKU bundling dikurangi dari 22 menjadi 18 unit.
Sementara itu, salah satu merek popok sekali pakai mencatat nilai penjualan tertinggi di kategorinya dengan menawarkan produk gratis seperti botol bayi dan cleansing gel untuk pembelian tertentu.
Jumlah SKU promosi gimmick yang ditawarkan meningkat 275% selama periode perang dagang, yang berkontribusi pada kenaikan nilai penjualan sebesar Rp5 miliar, serta peningkatan volume produk terjual lebih dari 23.000 unit. Menariknya, pada saat yang sama, sejumlah pesaing justru mengalami penurunan penjualan.
“Tanggapan cepat dan adaptif terhadap dinamika pasar adalah kunci keberhasilan merek dalam menjaga posisi kompetitif di e-commerce. Untuk melaksanakan strategi tersebut secara terukur, diperlukan data pasar yang lengkap dan terkini, mulai dari penyesuaian harga, rotasi SKU bundling, hingga variasi promosi/diskon secara real-time. Ini memungkinkan merek untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga mengambil langkah proaktif dalam menghadapi tantangan,” ungkap Hanindia Narendrata, Co-Founder & CEO Compas.co.id.
Dengan situasi geopolitik yang masih belum stabil di 2025, wawasan historis ini menjadi panduan penting bagi merek lain yang ingin tetap relevan dan kompetitif di platform e-commerce. Ini guna memastikan keputusan berbasis data, sehingga dapat merespons perubahan pasar dengan tepat.
“Untuk memberikan pencerahan kepada publik, kami juga terus berupaya mengedukasi pasar agar semakin menggunakan data dalam pengambilan keputusan. Salah satunya melalui konten data-driven insight untuk pasar e-commerce di sektor FMCG, yang disajikan pada saluran media sosial dan situs web Compas.co.id,” tutup Hanindia Narendrata.
PANGKEP NEWS RESEARCH
[email protected]