Ekonomi Indonesia Menghadapi Tantangan Global
Jakarta, PANGKEP NEWS – Ketidakpastian ekonomi global dan domestik terus mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2025. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 4,87% year on year (yoy) pada kuartal pertama 2025, tetapi mengalami kontraksi sebesar 0,98% dibandingkan kuartal sebelumnya.
Menurut Bank DBS Indonesia, perlambatan pertumbuhan ekonomi ini sebagian disebabkan oleh rendahnya tingkat konsumsi. Hal ini terlihat dari penurunan konsumsi pemerintah pada masa pra-lebaran yang turun 1,2% yoy, berbeda dengan periode yang sama tahun lalu saat konsumsi pemerintah meningkat 20% yoy berkat Pemilu 2024.
Pelemahan konsumsi ini juga tercermin dari tingkat inflasi yang rendah. BPS melaporkan bahwa pada Januari 2025, Indonesia mengalami deflasi bulanan sebesar 0,76%, meskipun secara tahunan masih terjadi inflasi 0,76%. Pada Februari 2025, terjadi deflasi bulanan 0,48% dan deflasi tahunan 0,09%. Namun, pada Maret 2025, Indonesia berhasil mencatatkan inflasi bulanan 1,65% dan inflasi tahunan 1,03%.
Walaupun pertumbuhan ekonomi melambat, Indonesia masih berhasil mencatatkan surplus neraca perdagangan sebesar US$ 10,92 miliar pada kuartal pertama 2025, lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal pertama 2024 yang hanya mencatat surplus US$ 7,41 miliar. Surplus perdagangan pada Maret 2025 juga cukup signifikan, mencapai US$ 4,33 miliar.
Ekspor Indonesia menunjukkan peningkatan baik secara bulanan maupun tahunan, didorong oleh peningkatan ekspor migas dan nonmigas. Secara bulanan, ekspor naik 5,95% dan secara tahunan meningkat 3,16%. Sementara itu, impor juga mengalami kenaikan baik secara bulanan maupun tahunan, masing-masing sebesar 0,38% dan 5,34%.
Realisasi investasi di Indonesia pada kuartal pertama 2025 mencapai Rp 465,2 triliun, meningkat 15,9% dibandingkan kuartal IV-2024 dan naik 2,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dari jumlah ini, penanaman modal asing (PMA) tercatat sebesar Rp 230,4 triliun atau 49,3% dari total investasi, sementara penanaman modal dalam negeri (PMDN) mencapai Rp 234,8 triliun atau 50,5%.
Dengan kondisi domestik dan global saat ini, pertumbuhan ekonomi nasional diperkirakan akan lebih menantang. International Monetary Fund (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya akan mencapai 4,7% pada periode 2025-2026, turun dari proyeksi sebelumnya sebesar 5,1% yang diumumkan pada Januari 2025.
Bank DBS Indonesia juga menilai bahwa ada risiko moderat terhadap proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5% pada 2025. Bank Indonesia (BI) tampak lebih memprioritaskan stabilitas pasar keuangan yang didukung oleh inflasi yang kondusif pada kuartal pertama.
Di tengah tantangan ini, Indonesia masih memiliki potensi ekonomi baru yang dapat dioptimalkan di masa depan, seperti penguatan ekonomi digital, ekonomi hijau, dan hilirisasi sumber daya alam (SDA). Transformasi digital diperkirakan dapat menghasilkan nilai ekonomi sebesar US$ 360 miliar atau sekitar Rp 5.832 triliun pada tahun 2030, dengan tiga pilar utama yakni infrastruktur digital, talenta digital, dan tata kelola ekosistem digital.
Pembangunan energi baru terbarukan (EBT) dan perdagangan karbon juga menjadi fokus dalam mendorong transisi energi bersih dan pengembangan ekonomi hijau di Indonesia. Program hilirisasi SDA diharapkan dapat terus mendorong ekonomi nasional berbasis nilai tambah.
Bank DBS Indonesia akan menyelenggarakan Asian Insight Conference dengan tema “Growth in a Changing World” pada Rabu, 21 Mei 2025 di Ballroom Hotel Mulia, Jakarta. Acara ini diharapkan menjadi platform penting bagi bisnis dan investor dalam menghadapi perubahan global dan regional.