Jakarta, PANGKEP NEWS
Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, memperkirakan bahwa transaksi di pusat perbelanjaan pada tahun 2025 tidak akan setinggi tahun sebelumnya. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah meningkatnya fenomena ‘Rojali’ atau rombongan jarang beli, yang didorong oleh lemahnya daya beli masyarakat dan berdampak pada penurunan omzet pusat perbelanjaan.
“Pasti ada penurunan, sebab saat ini masyarakat kelas menengah bawah cenderung mencari barang dengan harga satuan yang terjangkau. Ini menyebabkan penurunan omzet,” ungkap Alphonzus saat diwawancarai di Pusat Grosir Cililitan (PGC) Jakarta, Rabu (23/7/2025).
APPBI memproyeksikan bahwa pertumbuhan industri pusat belanja tahun ini hanya akan berada di angka satu digit, atau kurang dari 10%. “Tahun 2025 ini masih ada pertumbuhan dibandingkan tahun lalu. Meski demikian, pertumbuhannya tidak signifikan, hanya sekitar satu digit. Artinya, kurang dari 10%. Namun, tetap ada pertumbuhan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, meskipun jumlah kunjungan ke pusat perbelanjaan memang meningkat, kenaikannya tidak signifikan dan tidak memenuhi harapan. APPBI mencatat kenaikan pengunjung tahun ini hanya sekitar 10% dibandingkan tahun lalu.
“Kenaikannya kurang dari 10% dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini sebenarnya tidak mencapai target yang seharusnya di kisaran 20-30%,” katanya.
Meskipun jumlah pengunjung meningkat, perubahan besar terlihat pada pola belanja. Banyak pengunjung yang datang ke mal lebih untuk melihat-lihat daripada bertransaksi.
“Kunjungan memang masih meningkat meskipun tidak signifikan. Namun, yang berubah adalah pola belanjanya. Mereka jadi lebih selektif dalam berbelanja. Jika tidak perlu, tidak membeli. Kalaupun membeli, mereka memilih produk dengan harga satuan yang murah. Itu yang terjadi,” jelas Alphonzus.