Jakarta, PANGKEP NEWS –
Harga batu bara terus mengalami tekanan selama pekan ini, seiring dengan penurunan impor batu bara dari India, salah satu pengimpor terbesar di dunia.
Menurut data dari Refinitiv, pada perdagangan Jumat (16/5/2025), harga batu bara ICE Newcastle untuk kontrak Juni ditutup melemah 0,29% menjadi US$101,6 per ton. Dalam kurun waktu seminggu, harga batu bara mengalami koreksi dari posisi akhir perdagangan pekan lalu, yakni 9 Mei 2024, dari US$103,95 per ton menjadi US$101,6 per ton, atau turun sebesar 2,26%.
Pelemahan harga batu bara dalam sepekan ini terjadi setelah dua pekan sebelumnya mengalami kenaikan beruntun.
Impor batu bara India mengalami penurunan signifikan sebesar 9,2% selama periode April 2024 hingga Februari 2025, dengan total 220,3 juta ton (MT), turun dari 242,6 MT pada periode yang sama tahun fiskal sebelumnya.
Penurunan ini menghemat devisa sekitar US$6,93 miliar, menandakan langkah besar menuju kemandirian energi, menurut Kementerian Batu Bara.
Data kementerian menunjukkan bahwa penurunan terbesar terjadi pada Sektor Non-Regulasi, di mana impornya turun hingga 15,3% dari tahun ke tahun.
Meski pembangkit listrik berbahan bakar batu bara meningkat 2,87%, impor untuk pencampuran oleh pembangkit listrik termal menurun hampir 39%, yang menekankan upaya negara tersebut untuk mengurangi ketergantungan pada batu bara impor.
Namun, India masih menghadapi tantangan besar dalam memenuhi permintaan batu bara termal bermutu tinggi, yang jumlahnya terbatas dalam cadangan negara tersebut. Oleh karena itu, impor batu bara tetap penting untuk memenuhi kebutuhan sektor-sektor kunci, seperti baja.
Kementerian Batu Bara telah mengambil langkah-langkah strategis untuk meningkatkan produksi dalam negeri dan memastikan pasokan batu bara yang aman, sejalan dengan tujuan India untuk mengurangi impor dan meningkatkan ketahanan energi.
Dengan memprioritaskan produksi batu bara dalam negeri, pemerintah berencana untuk melangkah menuju tujuan Viksit Bharat dengan membangun kerangka kerja energi berkelanjutan yang mandiri dan mendukung pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
PANGKEP NEWS RESEARCH