Hashim: Prancis Tertarik Membangun Pembangkit Listrik Nuklir di Indonesia
Jakarta, PANGKEP NEWS – Utusan Khusus Presiden untuk Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, menyatakan bahwa sejumlah perusahaan Prancis menunjukkan minat untuk berpartisipasi dalam program kelistrikan Indonesia. Hal ini diungkapkannya saat kunjungannya ke Paris, Prancis, di sela-sela perayaan Bastille Day yang dihadiri Presiden RI atas undangan Presiden Emmanuel Macron.
“Banyak perusahaan dari Eropa, terutama dari Prancis, yang ingin ambil bagian dalam program kelistrikan,” ujar Hashim setelah menghadiri Breakfast Forum Kadin dan Madef (Mouvement des Entreprises de France), Selasa waktu setempat, seperti dikutip pada Rabu (16/7/2025).
“Seperti yang kita ketahui, industri nuklir Prancis sangat maju. Sekitar 80% dari listrik di Prancis berasal dari tenaga nuklir. Jadi, kemungkinan perusahaan Prancis ingin ikut serta dalam program ini,” jelasnya merinci program yang direncanakan oleh Presiden Prabowo Subianto.
Hashim juga menyebutkan bahwa Presiden telah menyetujui pembangunan pembangkit nuklir berkapasitas 500 megawatt di Indonesia. Rencana ini akan ditingkatkan menjadi 10 gigawatt di masa depan.
“Saat ini lokasinya belum ditentukan,” ujarnya ketika ditanya tentang lokasi spesifik.
“Namun, sebagian besar kemungkinan akan berada di Indonesia bagian Barat sesuai kebutuhan, meski nantinya bagian Timur juga memerlukan,” tambahnya.
Untuk wilayah Indonesia bagian Timur, Hashim menyebutkan bahwa model yang akan digunakan adalah small modular reactors (SMR). Berdasarkan informasi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Badan Atom Internasional (IAEA), SMR memiliki kapasitas di bawah 300 megawatt.
“Ada kemungkinan model ini juga akan mengapung,” ujarnya. “Seperti kapal atau tongkang yang bisa digunakan di bagian Timur Indonesia.”
Menurut Hashim, keamanan juga bukan lagi sebuah isu. Ia menegaskan bahwa tenaga nuklir adalah yang paling aman di dunia.
Ia merujuk pada tiga insiden nuklir yang terjadi di dunia dan menyebut semuanya disebabkan oleh kesalahan manusia, sehingga pengembangan artificial intelligence (AI) menjadi penting.
“Dalam 40-50 tahun, hanya ada tiga insiden: di Chernobyl, Three Mile Island, dan Fukushima,” katanya.
“Dan setelah dikaji, semuanya adalah kesalahan manusia. Jadi, salah satu solusi yang bisa kita gunakan adalah AI,” tambahnya lagi.
“Nantinya, tenaga nuklir akan dikendalikan oleh komputer dan teknologi lain untuk mencegah kesalahan manusia. Manusia hanya akan menjadi pelengkap,” ujarnya.
Berdasarkan RUPTL 2025-2034, pemerintah Indonesia merencanakan pembangunan 69,5 gigawatt pembangkit baru dalam 10 tahun ke depan. Data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan bahwa sekitar 76% dari kapasitas baru tersebut akan berasal dari energi baru terbarukan (EBT).