Penemuan DNA Ungkap Sebab Kematian Raja Tutankhamun
Jakarta, PANGKEP NEWS Indonesia – Tutankhamun, firaun dari masa Mesir kuno, adalah bagian dari dinasti ke-18 Kerajaan Baru Mesir. Raja muda ini wafat pada tahun kesembilan pemerintahannya, sekitar tahun 1324 SM, di usia 19 tahun.
Kematian Raja Tut yang begitu dini dan tanpa meninggalkan ahli waris memicu banyak spekulasi mengenai penyakit dan penyebab kematiannya.
Berdasarkan laporan Live Science, analisis terbaru DNA mumi berusaha menemukan tanda-tanda penyakit yang bisa menyebabkan kematian Raja Tut. Tes DNA juga telah mengungkap atau mengonfirmasi identitas dan hubungan beberapa mumi yang sebelumnya tidak teridentifikasi, termasuk ibu dan ayah Tut.
Artefak menunjukkan bahwa bangsawan pada era tersebut memiliki penampilan yang agak feminin atau androgini. Beberapa penyakit yang diduga bisa menjelaskan penampilan ini termasuk ginekomastia (pertumbuhan payudara berlebihan pada pria, biasanya akibat ketidakseimbangan hormon), sindrom Marfan, dan lainnya. Sindrom Marfan biasanya ditandai dengan anggota tubuh yang sangat panjang dan jari-jari yang panjang serta dapat menyebabkan kelainan jantung serius.
Hasil tes DNA mumi menunjukkan bahwa Raja Tut kemungkinan besar meninggal karena malaria dan kelainan tulang.
Para peneliti yang melakukan analisis tersebut mencatat, “Namun, sebagian besar diagnosis penyakit adalah hipotesis yang diperoleh melalui pengamatan dan interpretasi artefak dan bukan dengan mengevaluasi sisa-sisa mumi kerajaan secara langsung.”
Zahi Hawass, kepala Dewan Tertinggi Purbakala di Kairo, Mesir, dan timnya melakukan penelitian untuk menentukan hubungan kekeluargaan di antara 11 mumi kerajaan Mesir Baru, serta mencari ciri-ciri patologis dari kelainan bawaan, penyakit menular, dan hubungan darah.
Mereka juga meneliti bukti spesifik terkait kematian Tutankhamun, dengan beberapa ahli berspekulasi bahwa kematian itu disebabkan oleh cedera; septikemia (infeksi aliran darah) atau emboli lemak (pelepasan lemak ke dalam arteri) akibat patah tulang paha; pembunuhan dengan pukulan di bagian belakang kepala; atau keracunan.
Parasit penyebab malaria juga ditemukan pada empat mumi, termasuk mumi Tut. Analisis genetika menunjukkan bahwa infeksi malaria yang disertai kondisi di mana suplai darah ke tulang buruk sehingga melemahkan atau merusak area tulang menjadi penyebab kematian raja Mesir tersebut.
“Gangguan berjalan dan penyakit malaria yang diderita Tutankhamun didukung oleh penemuan tongkat dan apotek akhirat di makamnya,” jelas para penulis.
Mereka menambahkan bahwa patah kaki yang mendadak, kemungkinan akibat jatuh, dapat mengakibatkan kondisi yang mengancam nyawa saat infeksi malaria terjadi.
Penemuan baru ini dirinci dalam edisi 17 Februari dari Journal of the American Medical Association.