Tanda-tanda Batu Bara RI Mulai Kurang Diminati Dunia, Apa Penyebabnya?
Jakarta, PANGKEP NEWS Indonesia – Harga batu bara global mengalami penurunan selama minggu ini. Penurunan ini membuat ekspor ‘emas hitam’ Indonesia menghadapi tekanan ganda.
Berdasarkan data Refinitiv, harga batu bara acuan Newcastle untuk kontrak Agustus 2025 pada Jumat (29 Juni 2025) tercatat di US$107 per ton, turun 4,68% dalam seminggu. Sepanjang tahun 2025, harga acuan tersebut telah merosot 15,75% year-to-date (ytd).
Salah satu faktor penurunan lebih dari 4% ini adalah kebijakan China yang mengurangi impor batu bara karena pasokan dalam negeri yang melimpah di negara konsumen terbesar di dunia tersebut.
Mengutip Bloomberg, terdapat peningkatan 13% dalam jumlah pengiriman batu bara ke luar negeri dari negara tersebut dalam lima bulan pertama tahun ini.
China mengekspor 2,5 juta ton batu bara dari Januari hingga Mei 2025, dengan sebagian besar ke Jepang, Indonesia, dan Korea Selatan. Sementara itu, produksi batu bara mencapai 5 miliar ton pada periode yang sama, sementara impor turun 8% dibandingkan tahun sebelumnya.
Produksi batu bara domestik yang mencapai rekor tertinggi dan berkurangnya penggunaan pembangkit listrik tenaga batu bara di China menyebabkan penurunan permintaan impor batu bara termal di pasar terbesar dunia tersebut.
Tren ini mulai terlihat awal tahun ini, setelah impor batu bara China sempat melampaui 500 juta ton pada 2024. Di sisi lain, otoritas perencana pusat China telah menginstruksikan peningkatan stok batu bara untuk pembangkit listrik hingga 10%.
Melihat harga batu bara domestik yang rendah, permintaan yang lemah, dan persediaan yang tinggi di pelabuhan, penurunan impor China tidak mengherankan. Analis bahkan sebelumnya telah memperkirakan tren penurunan impor ini berpotensi berlanjut dalam beberapa bulan mendatang.
Asosiasi batu bara China memprediksi produksi akan tumbuh lebih cepat dibanding konsumsi pada 2025, menunjukkan kemungkinan kelebihan pasokan dapat bertahan hingga akhir tahun ini, meskipun akan ada musim permintaan puncak pada musim panas.
Ekspor Batu Bara RI Terancam Tidak Laku
Ekspor batu bara Indonesia menghadapi tantangan besar akibat penurunan global. Pertama, devisa dari batu bara berpotensi menurun dan produk batu bara RI ditinggalkan.
Penurunan harga batu bara internasional membuat negara konsumen utama seperti China dan India lebih memilih batu bara dengan kalori tinggi karena lebih ekonomis. Masalahnya, batu bara Indonesia umumnya berkalori rendah sehingga berpotensi ditinggalkan oleh China dan India yang juga merupakan pembeli utama batu bara RI.
Indonesia adalah eksportir terbesar dunia untuk batu bara termal yang digunakan untuk pembangkit listrik. Namun, posisinya kini dalam risiko.
Data terbaru menunjukkan pembelian batu bara oleh China dan India dari Indonesia menurun lebih cepat dibandingkan penurunan keseluruhan impor batu bara termal mereka.
Kedua negara tersebut mulai beralih ke batu bara dengan nilai kalori lebih tinggi, yang menghasilkan energi lebih banyak per ton.
“Batu bara berkalori tinggi memang lebih mahal, tetapi menghasilkan lebih banyak energi untuk setiap dolar yang dibelanjakan pada harga saat ini. Satu juta ton batu bara CV tinggi dapat menggantikan 1,2 hingga 1,5 juta ton batu bara dari Indonesia,” kata Vasudev Pamnani, Direktur di perusahaan perdagangan batu bara di India, I-Energy Natural Resources.
Di China, batu bara termal Indonesia dengan nilai kalor sedang hingga rendah menghadapi tantangan bersaing dengan batu bara Rusia yang memiliki kualitas serupa tetapi dijual dengan harga diskon, menurut analis dari Kpler, Zhiyuan Li.
Indonesia memasok batu bara ke China sebanyak 78,45 juta ton pada Januari-Mei 2025, turun 11,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sebaliknya, pasokan dari Australia dan Mongolia terus meningkat.
Ramli Ahmad, Direktur Utama perusahaan tambang Indonesia Ombilin Energi, menyatakan bahwa batu bara Indonesia bisa kembali diminati jika harga batu bara CV tinggi naik akibat konflik di Timur Tengah.
Namun, batu bara dengan CV rendah akan tetap tertekan selama batu bara dengan kandungan energi lebih tinggi tetap lebih kompetitif.
Di pasar China, batu bara dari Mongolia menjadi pengganti utama yang menggantikan posisi Indonesia.
Di India, batu bara dari Afrika Selatan mengalami peningkatan permintaan. Pangsa pasar mereka mencapai rekor tertinggi dalam lima bulan pertama 2025, menurut data bea cukai China dan data perdagangan India.
Sebaliknya, kiriman batu bara dari Indonesia merosot 7,24% menjadi 43,59 juta ton. Pasar batu bara Indonesia di India juga menghadapi persaingan ketat dari Rusia hingga Amerika Serikat.
China dan India juga meningkatkan pembelian dari Tanzania, negara yang sebelumnya hampir tidak terdengar dalam peta perdagangan batu bara global sebelum pecahnya perang Rusia-Ukraina pada 2022.
Pedagang India turut meningkatkan pembelian batu bara berkualitas tinggi dari Kazakhstan, Kolombia, dan Mozambik tahun ini, sementara Australia juga mulai merebut pangsa pasar di China.
PANGKEP NEWS INDONESIA RESEARCH