Data Pengangguran Indonesia Sejak Era Reformasi: Dari Megawati Hingga Prabowo
Jakarta, PANGKEP NEWS- Tingkat pengangguran terbuka di Indonesia tercatat sebesar 4,76% pada Februari 2024. Meskipun presentasenya menurun, jumlah penganggur mengalami peningkatan.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa angka pengangguran di Indonesia pada Februari 2025 meningkat sebesar 0,08 juta orang, mencapai 7,28 juta orang dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini berhubungan dengan banyaknya kasus Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akhir-akhir ini.
“Jika dibandingkan dengan Februari 2024, pada Februari 2025 jumlah penganggur bertambah sebanyak 0,08 juta orang atau setara dengan 83 ribu orang, naik sekitar 1,11%,” kata Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam konferensi pers pada Senin (5/5/2025).
Walaupun jumlahnya meningkat, tingkat pengangguran secara presentase menurun menjadi 4,76%. Angka ini adalah yang terendah dalam sejarah. Tingkat pengangguran terbuka mengukur jumlah penganggur (orang yang tidak bekerja, sedang mencari pekerjaan, dan tersedia untuk bekerja) dibandingkan dengan angkatan kerja. Penurunan tingkat pengangguran pada Februari 2025 disebabkan oleh pertambahan jumlah penganggur yang lebih kecil dibandingkan dengan jumlah angkatan kerja.
Angkatan kerja terdiri dari jumlah total orang yang bekerja dan yang menganggur (usia kerja yang aktif secara ekonomi).

Pengangguran di Era Reformasi
Tingkat pengangguran di Indonesia sejak masa Reformasi mengalami fluktuasi. Setelah sempat menurun sejak 2006, tingkat pengangguran kembali melonjak selama pandemi Covid-19 (2020-2021).
Era Reformasi yang dimulai pada 1999 menjadi titik balik penting karena ekonomi Indonesia sempat mengalami krisis setelah jatuhnya Soeharto pada 1998.
Di awal Reformasi, Indonesia mengalami peralihan presiden yang cepat antara 1999-2004, dari BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, hingga Megawati Soekarnoputri. Stabilitas ekonomi mulai tercapai di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang terpilih secara langsung pada 2004.
(mae/mae)