Saham Emas Unggulan, Selalu Bersinar Saat Konflik!
Jakarta – Harga emas biasanya meningkat saat terjadi perang atau konflik geopolitik yang besar. Dalam kondisi perang, ketidakpastian ekonomi bertambah, sehingga investor cenderung memindahkan dana dari aset berisiko seperti saham ke aset yang lebih aman seperti emas.
Perang seringkali membuat pemerintah mencetak lebih banyak uang untuk membiayai kebutuhan militer, yang dapat memicu inflasi. Emas dilihat sebagai pelindung nilai terhadap inflasi. Konflik juga dapat mengganggu perdagangan internasional, pasokan energi, dan produksi global, sehingga memicu keresahan pasar dan meningkatkan permintaan emas.
Dalam situasi ekstrem seperti perang, bank sentral dan masyarakat umum mungkin membeli emas untuk melindungi nilai cadangan dan kekayaan mereka.
Sepanjang tahun 2025, harga emas dunia (XAU) mengalami peningkatan sebesar 30%. Hingga perdagangan intraday Selasa (17/6/2025), harga emas mencapai US$3400,97 per troy ons.
Beberapa faktor mendorong kenaikan harga emas sepanjang 2025.
Sejumlah saham emas yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) juga mencatat kenaikan signifikan sepanjang 2025, sejalan dengan peningkatan harga emas dunia.
Peningkatan pergerakan saham emas juga didorong oleh kinerja keuangan pada kuartal I 2025.
Di PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), penjualan emas menyumbang 83% dari total pendapatan, dengan volume penjualan mencapai 13.739 kg, naik 93% (yoy).
Sementara itu, PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) mencatat pendapatan dari segmen penambangan emas yang meningkat 20% menjadi US$57 juta. Pertumbuhan terbesar berasal dari segmen perdagangan dan pengolahan emas yang melonjak hingga 270% menjadi US$33,4 juta.
Saat ini, ARCI mengelola tambang emas melalui dua anak perusahaannya, PT Meares Soputan Mining (MSM) dan PT Tambang Tondano Nusajaya (TNN).
PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) mencatat peningkatan kinerja berkat peningkatan produksi emas dari anak perusahaan di Palu, PT Citra Palu Minerals (CPM), serta kenaikan harga jual emas. Volume penjualan emas naik 128% (yoy) dari 9.623 ons menjadi 21.922 ons. Rata-rata harga jual emas (ASP) meningkat 35% menjadi US$2.809 per troy ons.
Sementara PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) mencatat pertumbuhan pendapatan yang didukung oleh peningkatan volume penjualan emas. Volume penjualan naik 18,77% (yoy), mencapai 4,47 ton pada kuartal I 2025 dari 3,76 ton pada kuartal I 2024.
Rata-rata harga jual juga naik sekitar Rp400.000 dari Rp1.063.254 pada kuartal I 2024 menjadi Rp1.501.205 pada kuartal I 2025, atau meningkat sekitar 41,19% (yoy).
Catatan: Artikel ini merupakan produk jurnalistik berupa pandangan dari PANGKEP NEWS Research. Analisis ini tidak bertujuan untuk mengajak pembaca membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab atas segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
PANGKEP NEWS RESEARCH