Kapal Mafia Utama Ditangkap di Tengah Laut, Terungkap Gunakan Starlink
Jakarta – Angkatan Laut Kolombia mengumumkan penangkapan pertama mereka atas kapal selam narkotika otomatis yang dilengkapi dengan antena Starlink di perairan Karibia.
Kapal tak berawak yang disita itu tidak membawa narkotika saat ini. Namun, pihak Angkatan Laut Kolombia yakin bahwa kapal tersebut sedang dalam tahap percobaan untuk mengangkut kokain.
Kapal selam semi-otomatis yang diproduksi di galangan kapal lokal ini telah digunakan selama bertahun-tahun untuk mengirimkan kokain dari utara Kolombia, produsen kokain terbesar di dunia, menuju Amerika Tengah atau Meksiko.
Belakangan ini, kapal-kapal narkotika tersebut mulai beroperasi lebih jauh hingga melintasi Atlantik dan Pasifik.
Temuan terbaru ini, yang disampaikan oleh Laksamana Juan Ricardo Rozo dalam konferensi pers, adalah penemuan pertama laporan kapal selam narkotika tanpa awak di perairan Amerika Selatan.
Menurut Angkatan Laut Kolombia, kapal ini dimiliki oleh Klan Gulf, kelompok mafia terbesar di Kolombia yang mampu mendistribusikan hingga 1,5 ton kokain.
Dalam video yang dirilis oleh Angkatan Laut Kolombia, terlihat kapal kecil berwarna abu-abu dengan antena satelit di bagian depan.
Ini bukan pertama kalinya antena Starlink yang dimiliki oleh Elon Musk ditemukan digunakan oleh pengedar narkoba di jalur laut.
Pada November 2024, polisi India menyita kiriman besar sabu senilai US$4,25 miliar di kapal yang dikendalikan dari jarak jauh menggunakan Starlink di dekat pulau Andaman dan Nicobar.
Produksi, penggunaan, dan penyitaan kokain mencapai rekor tertinggi pada 2023, menurut laporan lembaga narkoba PBB.
Di Kolombia, produksi kokain telah mencapai tingkat tertinggi akibat permintaan global yang melonjak.
Rozo menjelaskan bahwa pemanfaatan kapal selam otomatis ini mencerminkan peralihan penyelundup ke sistem otomatis yang lebih canggih dan sulit dideteksi di laut.
“Kapal selam tanpa pengemudi sulit dilacak oleh radar dan memungkinkan jaringan kriminal beroperasi dengan tingkat otonomi tertentu,” ujar Rozo.
Juana Cabezas, seorang peneliti di Institut Studi Pembangunan dan Perdamaian Kolombia, menyatakan kepada AFP bahwa kartel narkoba Meksiko yang kuat dan beroperasi di Kolombia, telah mempekerjakan ahli teknologi dan insinyur untuk mengembangkan kapal selam otomatis sejak 2017.
Henry Shuldiner, seorang penyelidik untuk lembaga think-tank AS, InSight Crime, mengatakan bahwa kapal tanpa pengemudi mengurangi risiko penangkapan operator. Sehingga, sulit bagi operator untuk bekerja sama dengan otoritas untuk menangkap bos mafia.
Pada November 2024, ditemukan pula 5 ton kokain dari Kolombia yang diangkut dengan kapal semi-submersible menuju Australia.
Di Kolombia, hukum memberikan sanksi terhadap penggunaan, konstruksi, pemasaran, kepemilikan, dan transportasi semi-submersible dengan ancaman hukuman hingga 14 tahun penjara.