Kebiasaan Masyarakat Indonesia Ini Menjadi Penghalang Menuju Kekayaan
Jakarta, PANGKEP NEWS – Sejak kecil, masyarakat Indonesia sering diajarkan pentingnya menabung untuk masa depan. Namun, pandangan tersebut dipertanyakan oleh konglomerat Lo Kheng Hong.
Menurutnya, menyimpan uang di bank justru dapat membuat seseorang perlahan-lahan jatuh miskin. Pandangan ini tentu berbeda dengan keyakinan mayoritas orang Indonesia.
Lo Kheng Hong menjelaskan, “Menyimpan uang di bank sebenarnya membuat kita miskin secara perlahan karena nilai uang kita terus berkurang setiap harinya,” ungkapnya saat berbicara dalam acara Capital Market Summit & Expo (CMSE) pada Minggu (20/7/2025).
Di luar kebiasaan menabung, Lo Kheng Hong juga tidak memilih obligasi atau surat utang sebagai instrumen keuangan. Menurutnya, bunga dari obligasi terlalu kecil untuk diandalkan.
“Saya juga tidak berinvestasi dalam emas,” tambahnya.
Lo Kheng Hong lebih memilih berinvestasi di saham karena terbukti menguntungkannya dan telah membuatnya memiliki kekayaan ratusan miliar. Salah satu keberhasilannya adalah saham PT United Tractors Tbk (UNTR), yang menjadi awal dari keuntungan besar dalam investasinya.
Dia menjelaskan, alasan utamanya berinvestasi di saham Indonesia adalah karena bursa saham di Indonesia menawarkan imbal hasil tertinggi di antara bursa utama dunia bagi investor jangka panjang. “Sudah terbukti! Saya bersyukur saya menjadi bagian dari itu,” ucap Lo Kheng Hong.
Sampai saat ini, menurut Lo Kheng Hong, hampir 99% masyarakat Indonesia belum percaya bahwa investasi saham adalah pilihan terbaik. Banyak yang memilih menyimpan uang di bank atau membeli properti dibandingkan berinvestasi saham.
Lo Kheng Hong dikenal sangat teliti dan sering menghabiskan waktu mempelajari laporan keuangan. Usahanya dalam mempelajari laporan keuangan menjadi bukti bahwa ia tidak sembarangan memilih saham untuk diinvestasikan.
Pada tahun 1998, Lo Kheng Hong membeli saham PT United Tractors Tbk (UNTR) saat perusahaan tersebut mencatat laba bersih minus Rp 1 triliun. Meski demikian, pendapatan perusahaan sekitar Rp 2 triliun hingga Rp 4 triliun dengan laba operasional sekitar Rp 1 triliun. Dia menilai laba bersih yang minus tersebut disebabkan oleh kurs.
Ini menjadi momen awal dari kesuksesan Lo Kheng Hong sebagai investor saham. Kisah sukses ini berulang pada berbagai saham lainnya.