Jakarta, PANGKEP NEWS –
Seorang remaja Palestina berusia 15 tahun bernama Abdul Rahman Abu Jazar harus kehilangan penglihatan di mata kirinya setelah terkena tembakan dari pasukan Israel ketika ia tengah berusaha mendapatkan makanan untuk keluarganya. Kejadian memilukan ini berlangsung di lokasi pembagian bantuan di Gaza, pada hari Minggu (4/8/2025).
Berdasarkan pengakuan Abu Jazar kepada Al Jazeera, ia mendatangi tempat distribusi bantuan sekitar pukul 2 pagi waktu setempat karena ia dan saudara-saudaranya tidak memiliki makanan sama sekali. Ketegangan memuncak ketika tentara Israel mulai menembaki massa. Abu Jazar menyebutkan bahwa ia dan tiga orang lainnya terkena tembakan.
“Saat kami mulai berlari, mereka menembak. Saya merasakan sesuatu seperti sengatan listrik yang menembus tubuh saya,” kenangnya. Ia jatuh ke tanah dan kehilangan kesadaran, merasa saat itu seperti “akhir sudah dekat” dan “kematian ada di depan mata”.
Setelah siuman, ia diberitahu oleh orang-orang di sekitarnya bahwa ia terkena tembakan di kepala, tepatnya di mata. Ketika seorang dokter memeriksa matanya, Abu Jazar tidak mampu melihat cahaya apa pun.
Dokter menyatakan ia mengalami cedera mata berlubang akibat tembakan. Meskipun sudah menjalani operasi, dokter ragu bahwa ia akan mendapatkan kembali penglihatannya di mata kirinya.
“Saya berharap penglihatan saya akan kembali, insya Allah,” ucapnya penuh harap.
Peristiwa ini terjadi di tengah meningkatnya jumlah korban jiwa di Gaza. Berdasarkan laporan otoritas kesehatan Palestina, jumlah korban tewas akibat serangan Israel sejak 7 Oktober 2023 telah melampaui 60.000 orang, dengan lebih dari 145.000 orang terluka.
Kebanyakan korban adalah perempuan dan anak-anak. Angka ini tidak termasuk ribuan korban yang diperkirakan masih tertimbun di bawah puing-puing.
Kisah Abdul Rahman Abu Jazar adalah salah satu dari sekian banyak bukti kekerasan yang terjadi di lokasi pembagian bantuan. PBB melaporkan bahwa hampir 900 warga Palestina telah tewas di dekat lokasi bantuan sejak Mei, banyak di antaranya adalah mereka yang putus asa mencari makanan dan pasokan.
Berbagai laporan dari lapangan, termasuk kesaksian relawan, juga mengungkapkan bahwa bantuan yang tiba seringkali dijarah atau sulit didistribusikan karena kondisi yang berbahaya.