Komitmen Vale Indonesia Terhadap Lingkungan
Jakarta – PT Vale Indonesia (Persero) Tbk (INCO) mengedepankan komitmen untuk menjalankan operasi tambang yang ramah lingkungan dan memberikan kontribusi positif kepada masyarakat sekitar.
Plt Presiden Direktur Vale Indonesia, Bernardus Irmanto, mengungkapkan bahwa prinsip utama operasional perusahaan bukan sekadar mengejar keuntungan, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup dan menciptakan masa depan yang lebih baik bersama.
“Visi mulia dari PT Vale adalah bagaimana kami dapat beroperasi dengan tujuan meningkatkan kehidupan dan mentransformasi masa depan secara bersama-sama,” ujarnya kepada PANGKEP NEWS di Sorowako, Sulawesi Selatan, pada Kamis (19/6/2025).
Bernardus menjelaskan bahwa inti dari bisnis tambang Vale adalah meningkatkan kualitas hidup. Ini tidak hanya berkaitan dengan produk tambang dan nikel, tetapi juga mencakup peningkatan kualitas hidup masyarakat global dan lokal di sekitar tambang.
“Nikel digunakan dalam stainless steel dan baterai listrik, yang jelas meningkatkan kualitas hidup dunia. Namun, penting untuk tidak mengabaikan kualitas hidup komunitas di sekitar kita,” tambahnya.
Menurut Bernardus, peningkatan kualitas hidup harus berjalan seiring dengan kontribusi kepada negara melalui pembayaran pajak, royalti, dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).
Menanggapi isu perubahan iklim yang sering dikaitkan dengan bisnis tambang, Vale berusaha mengatasi stigma tersebut dengan melakukan rehabilitasi lahan yang telah dieksplorasi dengan penanaman kembali pohon.
“Kami berkomitmen tidak berubah, seperti dalam hal rehabilitasi lahan, kami telah merehabilitasi area baik di dalam maupun di luar konsesi hampir tiga kali lipat dari yang telah dibuka selama lebih dari 50 tahun beroperasi,” jelasnya.
Vale juga menerapkan reklamasi progresif, yang berarti mereka berusaha meminimalkan jejak penambangan dan melakukan rehabilitasi segera setelah penambangan selesai di satu fase.
Terkait isu dampak tambang terhadap kualitas air, Vale membuktikan bahwa kualitas air di sekitar danau tetap terjaga.
“Operasi kami di dekat tiga sistem danau, seperti Danau Matano dan Danau Mahalona, menunjukkan bahwa kualitas air Danau Matano tetap terjaga setelah lebih dari 50 tahun beroperasi,” jelasnya.
Bernardus juga menambahkan bahwa Vale menjaga emisi karbon dalam hilirisasi nikel dengan menggunakan energi bersih.
“Kami mengoperasikan tiga PLTA yang menghasilkan 365 MW listrik, dan 100% proses smelting kami menggunakan energi dari PLTA,” tambahnya.
“Pabrik kami di Surabaya menjadi pabrik RKF dengan intensitas karbon terendah di Indonesia,” tutupnya.
Audit Sosial dan Lingkungan
Vale berkomitmen untuk menjalankan bisnis dengan standar global melalui audit sosial dan lingkungan yang dilakukan secara sukarela melalui Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA).
“Bagi saya dan perusahaan, keberlanjutan adalah perilaku. Bukan hanya yang tertulis di atas kertas, tetapi yang dilakukan di lapangan,” ungkap Bernardus.
Dalam mengejar standar tambang dunia, selain transparansi laporan keberlanjutan lingkungan untuk mendapatkan kepercayaan publik dan rating ESG dengan skor 29,4, Vale juga secara sukarela mendapatkan sertifikasi IRMA 50.
“Sertifikasi ini salah satu yang terbaik di Indonesia, setara dengan pemain global lainnya,” ujarnya.
Sertifikasi IRMA 50 dikenal sebagai salah satu standar yang paling ketat. Hal ini menunjukkan komitmen Vale dalam tanggung jawab lingkungan yang berkelanjutan.
“Kami berusaha mendapatkan sertifikasi IRMA 50, yang dikenal ketat dan sulit. Ini membuktikan praktik kami memenuhi atau bahkan melampaui kepatuhan,” katanya.
Vale juga mengajak komunitas lingkungan dan masyarakat untuk memastikan bahwa INCO melaksanakan bisnis berkelanjutan.
Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA) adalah lembaga independen yang terdiri dari berbagai pemangku kepentingan di sektor pertambangan global, termasuk pelaku usaha, lembaga keuangan, komunitas, organisasi non-pemerintah, pekerja, dan konsumen produk tambang.
IRMA melakukan penilaian independen untuk tambang yang lebih bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan. Saat ini, 101 perusahaan tambang di 36 negara terlibat dalam proses audit IRMA, berdasarkan praktik tambang yang berkelanjutan dan bertanggung jawab.
Standar penilaian IRMA mencakup empat pilar utama, terdiri dari 26 bab dan lebih dari 400 indikator, termasuk hak asasi manusia, kualitas udara dan air, kesehatan dan keselamatan kerja, keamanan finansial, serta kontribusi dan investasi masyarakat.