Pertumbuhan Kredit Melambat, Bank Menengah Fokus Koleksi Surat Berharga
Jakarta, PANGKEP NEWS – Bank-bank berukuran menengah mencatat peningkatan signifikan dalam kepemilikan surat berharga dalam setahun terakhir. Hal ini terlihat ketika industri perbankan menghadapi tantangan pertumbuhan kredit yang melambat serta tabungan masyarakat yang tidak meningkat pesat sepanjang tahun ini.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengangkat isu ini dalam Rapat Dewan Gubernur BI pekan lalu. Ia menjelaskan bahwa pertumbuhan kredit yang lemah sebagian diakibatkan oleh kecenderungan bank untuk menempatkan dana mereka pada surat-surat berharga dan meningkatkan standar penyaluran kredit.
Fenomena ini terlihat jelas pada sejumlah bank yang masuk dalam kategori KBMI III, yang mencatat kenaikan signifikan dalam kepemilikan surat berharga mereka dari tahun ke tahun. Sebaliknya, pertumbuhan penyaluran kredit mereka justru terhambat atau menurun.
Contohnya, PT Bank Pan Indonesia Tbk. (PNBN) yang mencatatkan penempatan dana di surat berharga negara sebesar Rp50,86 triliun pada Mei 2025, meningkat 80,4% dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, pertumbuhan kreditnya menurun -4,34% year on year menjadi Rp123,67 triliun pada periode yang sama.
Presiden Direktur PaninBank, Herwidayatmo, mengungkapkan bahwa kenaikan investasi dalam surat berharga tersebut terutama terjadi pada kuartal IV-2024. Menurutnya, keputusan ini diambil karena permintaan kredit yang lemah di tahun sebelumnya.
“Dalam situasi di mana pertumbuhan kredit terbatas seperti tahun lalu, PaninBank memilih investasi yang aman dan tetap memberikan imbal hasil yang cukup baik melalui surat berharga,” kata Herwidayatmo kepada PANGKEP NEWS, Jumat (18/7/2025).
Sementara itu, PT Bank OCBC NISP Tbk. (NISP) juga mencatatkan peningkatan kepemilikan surat berharga sebesar 18,55% year on year menjadi Rp77,11 triliun pada Mei 2025. Direktur OCBC Indonesia, Hartati, menyatakan bahwa bank menempatkan kelebihan likuiditas pada surat berharga sebagai bagian dari manajemen likuiditas dengan mempertimbangkan imbal hasil yang optimal.
“Pada saat yang sama, bank tetap mengoptimalkan fungsi intermediasi dengan fokus pada pertumbuhan CASA dan menyalurkan kredit dengan prinsip kehati-hatian di tengah kondisi yang masih penuh tantangan,” ujar Hartati kepada PANGKEP NEWS, Jumat (18/7/2025).
Kredit OCBC Indonesia tumbuh sebesar 6,37% year on year menjadi Rp164,51 triliun pada Mei 2025, angka ini masih di bawah target pertumbuhan kredit BI yang berada di kisaran 8%-11% pada akhir tahun 2025.
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) juga mencatat pertumbuhan kredit yang cukup rendah, yakni 5,2% year on year menjadi Rp366,5 triliun pada Mei 2025. Sementara itu, pertumbuhan kepemilikan surat berharga bank pelat merah ini lebih tinggi, mencapai 11,49% year on year menjadi Rp63,63 triliun pada periode yang sama.
Menurut Direktur Finance & Strategi BTN, Nofry Rony Poetra, permintaan dan pertumbuhan kredit di bank tersebut masih baik. Seperti bank lainnya, ia mengatakan bahwa penempatan surat berharga adalah bagian dari strategi investasi dan pengelolaan likuiditas.
“Permintaan dan pertumbuhan kredit di BTN positif. Penempatan di surat berharga sesuai dengan strategi investasi dan pengelolaan likuiditas,” kata Nofry kepada PANGKEP NEWS, Jumat (18/7/2025).
Selain ketiga bank tersebut, PT Bank Permata Tbk. (BNLI) juga mencatat peningkatan signifikan dalam kepemilikan surat berharga, sebesar 29,80% year on year menjadi Rp66,33 triliun pada Mei 2025. Namun, pertumbuhan kredit bank yang dimiliki Bangkok Bank ini mampu tumbuh lebih tinggi dari rata-rata industri perbankan, yakni 9,5% year on year menjadi Rp159,83 triliun pada periode yang sama.
Manajemen PermataBank belum memberikan tanggapan terkait pertanyaan PANGKEP NEWS.
Bank Pilih “Cari Aman”
Per Juni 2025, pertumbuhan kredit perbankan tercatat sebesar 7,77% year on year, menurun dibandingkan Mei 2025 yang sebesar 8,43% year on year. Sementara itu, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) meningkat menjadi 6,96% year on year pada Juni 2025, namun masih di bawah pertumbuhan kredit.
Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Trioksa Siahaan, menyatakan bahwa kecenderungan bank menempatkan dana di surat berharga mungkin menjadi salah satu alasan pertumbuhan kredit yang lambat sepanjang tahun ini. Namun, keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi yang belum stabil.
“Bank memerlukan instrumen yang lebih aman ketika kondisi ekonomi belum sepenuhnya pulih, serta harus menjaga likuiditasnya,” ujar Trioksa kepada PANGKEP NEWS, Jumat (18/7/2025).
Senada, Pengamat Perbankan & Praktisi Sistem Pembayaran, Arianto Muditomo, menyatakan bahwa penempatan dana bank di obligasi disebabkan oleh ketidakpastian ekonomi dan lemahnya permintaan kredit yang berkualitas.
“Di tengah kondisi ekonomi global yang masih rentan dan meningkatnya risiko kredit, bank lebih memilih instrumen yang lebih aman dan likuid seperti SBN yang menawarkan imbal hasil pasti dan risiko gagal bayar yang sangat rendah,” kata Arianto kepada PANGKEP NEWS, Jumat (18/7/2025).
Lebih lanjut, Arianto menambahkan bahwa permintaan kredit dari sektor riil yang belum sepenuhnya pulih membuat bank lebih memilih untuk menunggu momentum yang tepat sambil menjaga kualitas aset mereka.