Kwik Kian Gie: Dari Kesulitan Menuju Keberhasilan
Jakarta, PANGKEP NEWS – Hingga akhir hayatnya pada Senin, 28 Juli 2025, Kwik Kian Gie dikenal sebagai ekonom terkemuka di Indonesia. Dia kerap memberikan pandangan ekonomi ketika berperan sebagai birokrat dan akademisi.
Kehidupan Kwik tidak selalu mulus. Pada masa mudanya sekitar tahun 1942, ia menghadapi banyak tantangan. Berasal dari keluarga berada, ayahnya, Kwik Hway Gwan, adalah seorang pengusaha tekstil di Juwana, Pati. Namun, kedatangan tentara Jepang mengubah segalanya.
Keluarga Kwik, yang merupakan bagian dari organisasi amal untuk membantu China selama Perang Dunia II (1939-1945), menjadi target tentara Jepang. Bisnis dan aset mereka musnah.
Kakaknya, Januar Darmawan, dalam buku Profit and Beyond: Proses Mencetak Para Wirausahawan (2019), menceritakan bahwa harta mereka habis dijarah oleh orang tak dikenal saat mereka mengungsi. Januar Darmawan sendiri nantinya menjadi pengusaha sukses di Indonesia.
Setelah perampokan tersebut, Kwik muda harus mengungsi ke daerah terpencil. Saat itu, usianya belum mencapai 10 tahun. Sayangnya, mereka kembali dirundung kesialan. Dalam memoar Menelusuri Zaman: Memoar dan Catatan Kritis (2017), Kwik menuliskan bahwa dalam perjalanan, sekelompok perampok kembali mengambil semua barang mereka.
“Setelah semua barang dan makanan kami habis, mereka meninggalkan kami,” kenang Kwik.
Peristiwa ini memaksa mereka kembali ke Juwana. Beruntung, pabrik rokok milik kakek masih berdiri. Dari sinilah, Kwik dan saudara-saudaranya mulai berjualan rokok.
“Kami biasanya berjualan di stasiun kereta,” ujar Kwik.
Namun, cobaan belum berakhir. Ketika ekonomi keluarga mulai bangkit, ayahnya ditahan oleh tentara Jepang. Ia dianggap anti-Jepang karena mendukung organisasi China.
Akibatnya, Kwik harus bekerja keras bersama ibunya untuk mencari nafkah. Saat itu, ibunya harus menghidupi 10 anak. Cara tercepat dan termudah adalah berjualan permen dan kacang goreng seharian.
Sementara Kwik dan saudaranya juga bekerja keras membantu tentara Jepang yang membutuhkan biji jarak, yang digunakan sebagai bahan bakar alat tempur saat perang.
Keadaan mulai membaik setelah Indonesia merdeka. Pasca 1945, Kwik menetap di Semarang. Di sana, ia dan saudara-saudaranya tinggal hingga menyelesaikan pendidikan SMA. Setelah SMA, mereka berpencar untuk melanjutkan pendidikan di berbagai universitas.
Kwik sendiri berkuliah di Universitas Indonesia dan melanjutkan studi ekonomi di Rotterdam, Belanda. Di Belanda, ia satu almamater dengan proklamator Mohammad Hatta dan Sumitro, ayah Prabowo.