Labubu Klaim Tak Tersentuh Tarif Impor Donald Trump, Apakah Mungkin?
Jakarta, PANGKEP NEWS – Labubu menjadi favorit dari generasi Z hingga orang yang lebih tua. Namun, kini boneka monster tersebut harus menghadapi tarif impor Amerika Serikat dan ketegangan dagang dengan China.
Fenomena Labubu yang melejit pesat turut meningkatkan bisnis toko yang menjualnya, Pop Mart. Pada 2024, pendapatan perusahaan mencapai 13,04 miliar yuan (sekitar Rp 29,8 triliun), dengan 3 miliar yuan (sekitar Rp 6,8 triliun) berasal dari penjualan Labubu saja.
Penjualan yang luar biasa ini tidak hanya terjadi di China, tetapi juga di banyak negara lain termasuk Amerika Serikat. Antrian panjang tampak di berbagai toko offline Pop Mart di banyak negara.
Pendapatan dari luar China tercatat sebesar 5,07 miliar yuan (sekitar Rp 11,5 triliun), meningkat 375,2% pada tahun 2024. Bahkan, di AS, Citigroup memperkirakan Pop Mart akan tumbuh hingga 900%.
Pop Mart tidak hanya menjual Labubu. Ada banyak boneka kecil lainnya yang dijual seperti Baby Molly, Crybaby, Dimoo, hingga Pucky.
Inovasi kotak misteri juga disambut baik oleh publik. Bahkan, ada yang membandingkan kesenangan membukanya dengan berjudi.
“Hal ini meningkatkan keinginan untuk mengoleksi barang dan terus membelinya,” ujar profesor bahasa Inggris dari Princeton University, Anne Cheng.
Klaim Pop Mart tentang Ketahanan terhadap Tarif Impor AS
Namun, keberhasilan Labubu tampaknya akan terkena dampak tarif impor yang diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump. Pop Mart adalah perusahaan asal China, negara yang terlibat dalam perang tarif dengan AS.
Setelah Trump menetapkan tarif, China dan AS memberlakukan tarif sebesar 145% dan 125% masing-masing. Namun, kedua negara kini telah menyepakati untuk menurunkan tarif menjadi 30% untuk China dan 10% untuk AS.
Pop Mart menyatakan bersedia menanggung kebijakan tarif ini. Mereka memastikan tidak akan ada biaya tambahan bagi pembelian boneka.
“Pelanggan tidak akan diminta untuk membayar biaya bea cukai tambahan,” tulis Pop Mart di halaman FAQ mereka.
Namun, menurut CNN Internasional, harga Labubu yang berwarna pastel dan bercorak tie-dye naik sebesar US$6 menjadi US$27,99.
Belum ada tanggapan mengenai rencana biaya tarif yang diberlakukan pemerintah.