Kemacetan Parah di Tangsel, MRT Jalur Layang Jadi Solusi
Jakarta – Beberapa kawasan di Tangerang Selatan (Tangsel) kini menghadapi kemacetan yang sangat parah, sehingga dibutuhkan transportasi umum berbasis rel untuk mengatasinya.
Seorang pengamat transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Jakarta, Revy Petragradia, mengungkapkan bahwa kemacetan di beberapa daerah Tangsel sudah sangat mengkhawatirkan. Karenanya, diperlukan alternatif transportasi umum untuk mengurangi kemacetan tersebut.
Menurutnya, wilayah Tangsel seperti Ciputat, Pamulang, Pondok Cabe, dan Cireundeu adalah daerah yang mengalami kemacetan paling parah.
“Karena saya tinggal di Tangsel, saya sering melewati Ciputat hingga Pamulang. Kemacetan di sana sangat parah, terutama di pagi dan sore hari, karena kebanyakan penduduk Tangsel bekerja di Jakarta,” kata Revy saat dihubungi PANGKEP NEWS, dikutip Jumat (1/8/2025).
Ia menambahkan, meskipun daerah tersebut sudah terlayani oleh Transjakarta dan KRL Commuter Line jalur Rangkasbitung-Tanah Abang, masyarakat masih lebih memilih kendaraan pribadi karena transportasi umum belum sepenuhnya menjangkau penduduk setempat.
Selain itu, akses menuju stasiun KRL dan MRT Jakarta terdekat seperti Stasiun Pondok Ranji, Stasiun Sudimara, dan Lebak Bulus juga mengalami kemacetan.
“Walaupun Tangsel sudah terhubung dengan beberapa stasiun KRL dan MRT terdekat adalah Lebak Bulus, namun kemacetan menuju lokasi-lokasi tersebut tetap ada. Maka dari itu, diperlukan angkutan umum massal yang dapat memfasilitasi pergerakan penumpang dari Tangsel,” ujar Revy.
Siap-Siap Kemacetan Makin Parah Saat Pembangunan MRT Jalur Layang
Revy sangat mendukung rencana perpanjangan MRT Jakarta ke beberapa area di Tangsel. Namun, jika proyek ini menggunakan jalur layang (elevated), potensi kemacetan bisa meningkat.
“Jika menggunakan sistem jalur layang, menurut saya itu yang mungkin dilakukan karena keterbatasan lahan. Namun, tantangan yang ada adalah bagaimana mengalihkan lalu lintas jika pembangunan dimulai, mengingat alternatif jalan sudah sangat terbatas,” jelasnya.
Ia menegaskan, opsi pembangunan transportasi berbasis rel di Tangsel memang sangat diperlukan, meski sudah ada jalur KRL.
“Tapi MRT atau LRT tetap menjadi pilihan yang bisa dipertimbangkan, terutama jika stasiunnya dikembangkan menjadi TOD dan dibangun oleh pengembang atau pusat bisnis, akan sangat strategis,” kata Revy.