Malam Bersejarah 1 Sura, Kraton Yogyakarta Jadi Pusat Upacara Mubeng Beteng
Ratusan bahkan ribuan orang menghadiri prosesi mubeng beteng yang diselenggarakan Keraton Jogja sebagai bagian dari peringatan malam 1 Muharram 1447 Hijriah atau 1 Sura Dal 1959 pada Kamis malam sampai Jumat dini hari. (PANGKEP NEWS/Tri Susilo)
Suasana upacara pembacaan macapat di Keagungan Dalem Bangsal Pancaniti, yang terletak di Kompleks Keben (Kamandungan Lar) Keraton Yogyakarta. (PANGKEP NEWS/Tri Susilo)
Untuk memperingati malam 1 Suro atau tahun baru Jawa, Keraton Yogyakarta kembali menggelar prosesi sakral Hajad Kawula Dalem Mubeng Beteng. (PANGKEP NEWS/Tri Susilo)
Tradisi yang penuh makna tersebut dimulai pada pukul 24.00 WIB sebagai bentuk laku spiritual dan doa menyambut tahun baru menurut penanggalan Jawa. (PANGKEP NEWS/Tri Susilo)
Prosesi berlangsung di Kagungan Dalem Bangsal Pancaniti, Kompleks Kaben (Kamandungan Lor), Keraton Jogja. (PANGKEP NEWS/Tri Susilo)
Hajad Kawula Dalem Mubeng Beteng dalam rangka memperingati Tahun Baru Jawa Dal 1959 diselenggarakan pada Kamis malam hingga Jumat dini hari, dimulai dari Bangsal Ponconiti, Kompleks Kamandungan Lor (Keben), Keraton Yogyakarta. (PANGKEP NEWS/Tri Susilo)
Sebelum prosesi, dilakukan pembacaan Macapat selepas Isya di lokasi yang sama. (PANGKEP NEWS/Tri Susilo)
Hajad Kawula Dalem Mubeng Beteng terbuka untuk umum, masyarakat bisa mengikuti seluruh rangkaian kegiatan tersebut. (PANGKEP NEWS/Tri Susilo)
Malam 1 Suro berasal dari penyesuaian kalender Islam (Hijriah) dengan kalender Jawa oleh Sunan Giri II pada masa Kerajaan Demak. Penetapan 1 Suro sebagai awal tahun baru Jawa resmi dilakukan pada masa Sultan Agung Hanyokrokusumo dari Kerajaan Mataram (1613-1645). (PANGKEP NEWS/Tri Susilo)
Sultan Agung memadukan kalender Saka dari tradisi Hindu dengan kalender Hijriah Islam untuk menyatukan rakyat Jawa, menghindari perpecahan akibat perbedaan agama, dan memperkuat persatuan menghadapi penjajahan Belanda. (PANGKEP NEWS/Tri Susilo)
Kalender Jawa baru ini mulai berlaku pada 8 Juli 1633 Masehi, dengan 1 Suro bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender Hijriah. (PANGKEP NEWS/Tri Susilo)
Dalam budaya Jawa, selain ritual tertentu, ada sejumlah pantangan pada malam 1 Suro yang bersifat budaya dan tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam, seperti larangan menggelar hajatan, bertengkar, melakukan perjalanan jauh, keluar rumah di malam hari, membangun rumah, hingga mengutamakan kesenangan duniawi. (PANGKEP NEWS/Tri Susilo)