Mayat Ditemukan di Kapal Dagang RI
Jakarta, PANGKEP NEWS Indonesia – Seorang kapten kapal berbendera Inggris yang namanya dirahasiakan sedang berlayar santai di Samudera Pasifik pada Kamis, 20 November 1940. Langit terlihat cerah tanpa awan, dan laut tenang tanpa gejolak yang berbahaya. Tidak ada tanda-tanda badai.
Ketenangan ini tiba-tiba terganggu ketika suara statik menginterupsi radio komunikasi kapal. Suara telegraf yang memohon pertolongan terdengar jelas. Awak kapal pun segera terdiam untuk mendengarkan.
“S.O.S dari kapal Ourang Medan. Segera kirim dokter,” terdengar suara seseorang melalui radio, disertai dengan rintihan, yang diambil dari sebuah surat kabar Inggris.
Di dunia pelayaran, sinyal SOS tidak digunakan sembarangan. Itu adalah panggilan darurat terakhir dari mereka yang berada dalam bahaya. Namun, suara telegraf dari Ourang Medan membuat para awak kapal merasa ada kejanggalan.
Seharusnya, jika memang dalam situasi genting yang membutuhkan pertolongan, Ourang Medan hanya perlu mengirimkan SOS dan koordinat. Tanpa menambahkan kalimat lain. Sebagai respon, kapten kapal segera mengirim balasan lewat gelombang pendek dan menanyakan lokasi Ourang Medan.
Setelah tiga kali pesan dikirim, balasan datang dengan suara terputus-putus.
“S.O.S dari Ourang Medan 20° Lintang Barat dan 179° Bujur Timur… Kami terombang-ambing… wakil kapten tewas di anjungan… kapten dan kepala mesin tewas di ruang peta… kemungkinan seluruh awak meninggal dunia… sebagian awak…,” suara terputus-putus itu berbicara.
Meski begitu, kapten masih menerima rangkaian kode telegraf, tanda masih ada orang menekan tombol. Hingga akhirnya, komunikasi terputus setelah seseorang berkata:
“Aku mati.. aku mati..,”
Dari sini, kapten langsung memerintahkan perubahan arah menuju koordinat yang disebutkan. Mesin kapal dipacu dengan kecepatan tinggi agar bisa tiba secepat mungkin, sekitar 16 jam. Sepanjang perjalanan, mereka terus mengirim pesan sambil bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.
Apapun yang terjadi, kapal Ourang Medan harus ditemukan terlebih dahulu.
Pada siang hari berikutnya, kapten akhirnya mencapai titik koordinat. Di sana, terlihat jelas kapal besar terombang-ambing sedikit miring ke kanan. Kapal itu tidak memiliki identitas yang jelas. Tidak ada bendera atau nama di lambung kapal. Namun, kapten yakin itu adalah Ourang Medan.
Kapten segera memanggil awak Ourang Medan lewat pengeras suara, tapi tidak ada jawaban. Dia pun memutuskan untuk merapat dan turun bersama para awak ke kapal tersebut. Begitu kaki menginjak dek, pemandangan mengerikan langsung menyambut mereka.
Di kapal, ditemukan 12 mayat berserakan di seluruh penjuru. Seekor anjing juga tergeletak tak jauh. Tubuh-tubuh itu kaku dalam kondisi yang mengerikan. Wajah mereka mengekspresikan ketakutan yang luar biasa. Mata mereka terbuka lebar dan mulut ternganga, seolah-olah mereka menyaksikan sesuatu yang tak bisa dijelaskan.
Kapten, dengan hati-hati, melucuti pakaian beberapa mayat. Namun, tak ditemukan luka, lebam, atau tanda kekerasan apa pun. Tidak ada penjelasan fisik atas kematian mereka. Hal yang sama juga terlihat pada tubuh kapten Ourang Medan. Tak ada cedera, tapi ekspresi wajahnya membeku dalam ketakutan mendalam.
“Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang mereka lihat sehingga wajah mereka menyiratkan ketakutan sedemikian dalam?” pikir kapten dengan penuh cemas.
Tiba-tiba, terdengar suara dari awak kapal Inggris yang berteriak ada kebakaran di Ourang Medan dan meminta semua kembali ke kapal. Mereka kemudian berlari dan melompat. Tak lama kemudian ledakan dahsyat mengguncang lautan Pasifik. Api melahap Ourang Medan hingga tenggelam perlahan ke dalam lautan, meninggalkan misteri yang tak terpecahkan.
Misteri yang Belum Terpecahkan
Menurut pemberitaan, Ourang Medan adalah kapal kargo dengan bobot lebih dari 5.000 ton. Usianya sudah 40 tahun dan sering berganti kepemilikan. Nama Ourang Medan menunjukkan pemilik terakhirnya yang diduga kuat orang Indonesia. Sebab nama itu berasal dari bahasa Indonesia atau Melayu yang berarti Pria dari Medan.
Tragedi Ourang Medan hingga kini masih penuh kebingungan. Dari tanggal kejadian, lokasi tenggelam, hingga penyebabnya.
Sebuah surat kabar Inggris memberitakan tragedi ini terjadi pada 20-21 November 1940. Namun, koran-koran di Indonesia menyebutkan kejadian itu terjadi pada Juni 1947.
Ketiga koran yang disebutkan menyebut lokasi kejadian di Pasifik, tepatnya sekitar Kepulauan Marshall dan Kepulauan Solomon. Namun, beberapa sumber mengatakan lokasi kejadian berada di Selat Malaka.
Belum lagi terkait penyebabnya. Hingga kini, tak diketahui mengapa para awak Ourang Medan tewas dengan ekspresi ketakutan luar biasa. Atau mengapa kapal itu tiba-tiba meledak. Ada dugaan kapal mengangkut bahan beracun atau peledak. Ada juga yang memperkirakan para awak terjangkit penyakit misterius.
Namun, semua itu tak bisa dibuktikan karena seluruh bukti sudah hancur bersama tenggelamnya kapal.
Kebingungan ini membuat sebagian orang menganggap tragedi Ourang Medan hanyalah cerita fiksi atau sekadar legenda kapal hantu. Tapi menyebutnya fiksi pun tidak sepenuhnya benar. Sebab ada saksi mata yang menyatakan dengan jelas bahwa kapal dan mayat-mayat itu benar-benar ada.
Sampai saat ini, tragedi Ourang Medan tetap diliputi misteri yang belum terpecahkan.