Nasib Mandoling, Alat Musik Tradisional Bugis-Makassar yang Terancam Punah

M Farid Makkulau bersama Daeng Hasa memainkan Mandoling
M Farid Makkulau bersama Daeng Hasa memainkan Mandoling

PANGKEP, BeritaPangkep – Masyarakat Bugis Makassar, khususnya di Pangkep terancam kehilangan Mandoling, salah satu alat musik tradisionalnya yang sudah jarang dipakai dalam pementasan kesenian daerah. Mandoling atau yang lazim oleh orang Bugis-Makassar disebut Mandali’ merupakan alat musik tradisional petik dan tindis. Alat musik ini terbilang khas dan unik, karena diduga diciptakan atas pengaruh budaya Cina.

Untuk petiknya terdiri atas tiga senar sedangkan tindisnya terdiri atas dua puluh tujuh nada, yang mesti dimainkan bersamaan layaknya gitar, hanya saja petikan dan tindisan Mandoling terpasang pada papan berbentuk persegi panjang.

Saat ini alat musik tradisional ini terancam punah mengingat tak banyak lagi yang bisa memainkannya.

Begitupun dengan alat musik Mandoling yang tak lagi diproduksi, malah hanya satu dua orang yang memiliki kemampuan membuatnya. Di Minasatene Pangkep, terdapat satu sanggar seni yang menggabungkan irama musik Mandoling dengan alat musik tradisional lainnya saat tampil. Namun sangat disayangkan bahwa alat musik Mandoling itu sendiri tinggal lima orang yang merumahkannya, salah satunya adalah M Farid W Makkulau, mantan jurnalis yang kini banyak aktif dalam kegiatan seni budaya dan sastra daerah.

Terancam punahnya Mandoling ini disadari oleh M Farid W Makkulau, yang juga Ketua Yayasan Kebudayaan Pangkep (YKP) ini sehingga meminta secara khusus Hasanuddin yang akrab dipanggil Daeng Hasa, seorang maestro Mandoling asal Biraeng Minasatene agar datang setiap malam minggu ke rumahnya dan mengajarkan seni memetik Mandoling kepada dirinya dan kawan pegiat seni tradisional lainnya.

Daeng Hasa sendiri memiliki kemampuan untuk membuat mandoling namun hal itu tidak dapat dilakukannya lagi mengingat kesibukannya bertani dan mengurus cucunya. Daeng Hasa boleh jadi tinggal seorang yang bisa membuat Mandoling dan menguasai teknik mengiringi semua jenis lagu dengan alat musik khas tersebut. “Kini secara bertahap, sesuai bimbingan Hasa, kami perkenalkan teknik memainkan Mandoling, salah satu jalan yang ditempuh adalah mengupload cara memainkan mandoling ke internet,” ujar penulis buku Sejarah dan Kebudayaan Pangkep ini.

Karena terancam punah, M. Farid W Makkulau berharap agar Pemerintah Kabupaten, dalam hal ini Dinas Pendidikan dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan setempat dapat berperan aktif dalam pelestarian alat musik tradisional Mandoling ini, baik dalam hal produksi Mandoling maupun dengan memasukkannya dalam pelajaran seni tradisional muatan lokal di sekolah.

“Kami sangat mengharapkan agar Pemerintah Kabupaten setempat dapat segera mengambil langkah pasti untuk melestarikan alat musik tradisional ini, bukan hanya Mandoling tetapi juga alat music lainnya seperti kecapi dan gambus sebelum akhirnya benar-benar punah dan tak ada lagi orang yang bisa memainkannya.” Harapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.