Fenomena Baru di China: Tantangan Sarjana Muda dalam Mencari Kerja
Jakarta, PANGKEP NEWS – Generasi muda di China menghadapi tantangan besar dalam menemukan pekerjaan yang sesuai dengan keahlian mereka. Hal ini terungkap dari sebuah laporan yang membahas tingginya angka pengangguran di kalangan sarjana muda di negara tersebut.
Banyak pencari kerja yang ditemui di bursa kerja Lishuiqiao, Beijing, mengungkapkan kesulitan mereka dalam mendapatkan pekerjaan di bidang yang mereka pelajari selama di kampus.
Hu Die, seorang pencari kerja berusia 22 tahun lulusan desain dari Harbin University of Science and Technology, menyatakan, “Saya melihat peluangnya cukup suram, pasar tenaga kerja sangat sepi, akhirnya saya mengurungkan niat mengejar posisi tertentu,” dikutip Minggu (1/6/2025).
Li Mengqi, sarjana teknik kimia dari Institut Teknologi Shanghai, telah menganggur selama delapan bulan sejak kelulusannya. Dia kesulitan menemukan pekerjaan yang sesuai dengan jurusannya.
Chen Yuyan, lulusan Guangdong Food and Drug Vocational College, akhirnya bekerja sebagai petugas sortir paket di agen kurir karena tidak menemukan pekerjaan yang menawarkan gaji mencukupi.
Chen menjelaskan, “Banyak perusahaan mencari kandidat berpengalaman. Sebagai lulusan baru, kami kurang pengalaman. Perusahaan sering mengatakan tidak memiliki sumber daya untuk melatih karyawan baru, dan gaji yang ditawarkan sangat rendah.”
Krisis Pasar Tenaga Kerja di China
Pendiri Young China Group, Zak Dychtwald, menjelaskan bahwa situasi yang dialami Li, Hu, dan Chen adalah contoh krisis pasar tenaga kerja yang dihadapi pemuda di China, yang bercita-cita berkarir sesuai bidang keahlian mereka.
“Salah satu masalah terbesar adalah ketidakcocokan antara usaha keras saat kuliah dan pekerjaan yang tersedia setelah lulus,” kata Zak Dychtwald.
Zhou Yun, asisten profesor Sosiologi di University of Michigan, mencatat bahwa meskipun lulusan dari sekolah elite dan jurusan seperti automasi atau AI banyak dicari, para sarjana masih menghadapi persaingan kerja yang ketat.
Beberapa industri yang sebelumnya menjadi penyerap utama lulusan, seperti startup internet dan pendidikan, mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir, menurut Zhou.
Fenomena ini menciptakan istilah “anak dengan ekor busuk” di China untuk menggambarkan sarjana muda yang terpaksa bekerja dengan gaji rendah dan bergantung pada orang tua, karena tidak mendapatkan pekerjaan yang sesuai.
Eli Friedman, profesor di Cornell University, menyebut adanya pergeseran budaya yang memengaruhi sikap generasi muda terhadap pekerjaan.
Ancam Kepastian Ekonomi
Generasi muda saat ini lebih enggan menerima pekerjaan berkualitas rendah atau tidak stabil, meski di tengah tekanan ekonomi. Mereka juga enggan memulai usaha kecil untuk berkembang.
“Jika Anda berusia 22 atau 23 tahun dan baru lulus universitas di China, saya rasa Anda tidak akan mau berjualan barang-barang kecil di jalanan, lalu menabung untuk memulai bisnis kecil. Secara budaya, itu bukan lagi pilihan yang banyak dipilih,” kata Friedman.
Pergeseran ini melahirkan istilah “merunduk” atau tangping dalam bahasa Mandarin, di mana kaum muda memilih mundur dari persaingan kerja yang ketat.
Zhou mengamati dampak psikologis mendalam akibat pengangguran berkepanjangan, terutama bagi lulusan yang dijanjikan masa depan stabil.
“Ketidakmampuan mendapatkan pekerjaan tidak hanya menciptakan ketidakpastian ekonomi, tetapi juga menghilangkan martabat dan tujuan hidup. Bagi para lulusan, ini meruntuhkan keyakinan bahwa pendidikan akan memberi kehidupan lebih baik,” ujarnya.
Tahun ini, jumlah lulusan universitas di China mencapai 12,22 juta, meningkat dari 9 juta pada 2021. Pemerintah China menyadari perlunya solusi mendesak untuk tantangan ini.
Menteri Sumber Daya Manusia dan Jaminan Sosial China, Wang Xiaoping, mengatakan, “Ketidakcocokan antara pasokan dan permintaan sumber daya manusia semakin mencolok,” dalam sebuah konferensi pers pada 9 Maret lalu.
Laporan Kerja Pemerintah China 2025 menguraikan rencana untuk mengatasi pengangguran kaum muda dengan memperluas peluang kerja, memberikan bantuan keuangan yang terarah, dan dukungan baru untuk kewirausahaan.
Langkah-langkah yang diusulkan meliputi pengembalian premi asuransi pengangguran, pemotongan pajak dan biaya, subsidi pekerjaan, serta dukungan untuk industri padat karya.
China menargetkan penciptaan lebih dari 12 juta pekerjaan baru di daerah perkotaan tahun ini, meskipun menghadapi kekurangan tenaga kerja terampil, terutama di sektor manufaktur.
Laporan dari Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi memperkirakan kekurangan sekitar 30 juta pekerja terampil di 10 sektor manufaktur utama pada 2025.