Pengusaha Mengeluhkan Banyaknya Hari Libur Panjang, Ini Alasannya
Jakarta, PANGKEP NEWS – Para pelaku usaha mulai merasa tidak nyaman dengan banyaknya hari libur panjang, terutama pada bulan Mei dan Juni 2025. Mereka menyuarakan protes terhadap kebijakan pemerintah tersebut.
Kalangan pengusaha berpendapat bahwa libur yang terlalu panjang dan sering akibat cuti bersama membuat pekerjaan menjadi tidak efisien. Oleh karena itu, pengusaha berharap dapat dilibatkan dalam pembuatan kebijakan ini.
“SKB 3 menteri itu merupakan kehendak pejabat, bukan pengusaha. Seharusnya melibatkan pihak yang menjadi objek, bukan hanya yang memiliki regulasi. Pemerintah sebaiknya melibatkan semua pihak yang terpengaruh, bukan hanya memutuskan sendiri soal libur atau cuti bersama,” ujar Wakil Ketua Dewan Pimpinan Provinsi (DPP) Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) DKI Jakarta, Nurjaman, kepada PANGKEP NEWS, Kamis (14/5/2025).
Nurjaman menambahkan bahwa libur yang terlalu panjang dapat mengganggu sistem kerja yang sudah ada, terutama di sektor manufaktur.

“Industri manufaktur tidak bisa berhenti, harus terus berputar. Sektor seperti kertas dan baja jika berhenti sehari, harus dilakukan perbaikan besar, yang biayanya cukup tinggi, sehingga tidak bisa berhenti,” tambah Nurhaman.
Ketika aktivitas kerja terhenti, biaya produksi tetap berjalan normal karena gaji pekerja tidak berkurang. Di sisi lain, produktivitas menurun karena libur, yang menyulitkan pengusaha dalam membayar gaji pekerja.
“Pertumbuhan ekonomi didukung oleh produktivitas, yang bergantung pada hari kerja yang efektif. Ada libur, tetapi biaya kerja tidak berkurang. Namun, saat libur, negara tidak bertanggung jawab atas pembayaran upah. Ekonomi kita sudah sulit, dan daya beli masyarakat menurun,” jelas Nurjaman.
Selain itu, libur panjang juga memengaruhi pekerja harian yang mengandalkan penghasilan dari kegiatan sehari-hari karyawan, seperti pengemudi ojek online.
“Pekerja harian makan dari mana? Mereka bergaji harian, jika libur tidak dibayar. Misalnya, yang seharusnya membawa penumpang di stasiun akhirnya berkurang jauh. Ojek online juga ikut libur atau tidak mendapatkan muatan, yang seharusnya 100 ribu, bisa jauh di bawah angka itu,” katanya.