Pengusaha Serukan Pembatasan Produksi Nikel, Ini Cadangannya
Jakarta – Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) menekankan pentingnya regulasi produksi nikel serta penerapan standar ESG nasional. Keprihatinan muncul seiring dengan kelebihan pasokan nikel global yang menekan harga dan merugikan industri tambang.
Sekjen APNI Meidy Katrin Lengkey menyebutkan bahwa lebih dari setengah pasokan nikel dunia saat ini berasal dari Indonesia, menurut laporan internasional terbaru. Namun, permintaan global, terutama dari sektor baterai dan stainless steel, belum mampu menyerap peningkatan pasokan tersebut.
Akibatnya, harga nikel global terus menurun, margin semakin tipis, dan tekanan pada pelaku pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) kian berat.
“Kita tidak bisa hanya berfokus pada peningkatan kapasitas tanpa mempertimbangkan permintaan. Kini saatnya pemerintah mengendalikan produksi dan menyesuaikan arah hilirisasi,” ujar Meidy dalam pernyataannya pada Rabu (6/8/2025).
Data dari FERROALOY menunjukkan bahwa produksi Nickel Pig Iron (NPI) Indonesia terus meningkat setiap tahun, sedangkan feronikel (FeNi) tetap pada porsi kecil. Ini menunjukkan strategi volume tanpa evaluasi daya serap pasar.
Selain pengendalian produksi, APNI juga mendorong penerapan standar ESG nasional sebagai bentuk komitmen terhadap praktik pertambangan berkelanjutan dan untuk menjaga akses pasar ekspor, terutama ke negara-negara yang menuntut transparansi sosial dan lingkungan.
Indonesia adalah produsen dan pemilik cadangan nikel terbesar di dunia. Namun, jika produksi terus digenjot tanpa henti, sisa umur cadangan bijih nikel dapat terus berkurang.
Data Cadangan Nikel RI
Berapa cadangan nikel Indonesia saat ini?
Sesuai data Neraca Sumber Daya dan Cadangan Mineral dan Batu Bara Nasional tahun 2025, total cadangan bijih nikel per Desember 2024 mencapai 5,913 miliar ton. Ini terdiri dari cadangan terkira 3,818 miliar ton dan cadangan terbukti 2,095 miliar ton.
Dengan produksi bijih nikel diperkirakan 173 juta ton per tahun seperti data tahun 2024, maka cadangan tersebut diperkirakan bertahan selama 34 tahun ke depan.
Beberapa waktu lalu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar dunia, menyumbang 43% cadangan global saat ini.
Berdasarkan data Badan Geologi Amerika, cadangan nikel Indonesia tercatat sebesar 43% dari total cadangan dunia. Sisanya terdapat di Australia, Filipina, dan sebagian Kanada.
“Nikel di dunia 43% menurut cadangan geologi Amerika itu ada di Indonesia. Selebihnya ada di negara tetangga seperti Australia dan Filipina, serta sebagian di Kanada,” ungkap Bahlil dalam Human Capital Summit (HCS) 2025, Selasa (3/6/2025).
Bahlil juga menyoroti bahwa nilai ekspor produk hilirisasi nikel tahun 2023 mencapai US$ 34 miliar, meningkat signifikan dari ekspor tahun 2017 ketika Indonesia hanya mengekspor bahan mentah berupa bijih nikel.
“Kita hentikan ekspor bijih nikel, dan pada 2023, setelah membangun industri, ekspor kita mencapai 34 miliar dolar. Sekarang kita menjadi eksportir terbesar produk turunan nikel,” tambahnya.
Pengelolaan sumber daya alam di Indonesia sesuai dengan Pasal 33 UUD 1945, yang menyatakan bahwa kekayaan alam dikuasai oleh negara untuk kemakmuran rakyat.
“Kekayaan dikuasai negara dan digunakan untuk kepentingan rakyat,” tegasnya.