Perang Dagang Berujung Dilema, Trump Berkali-kali Ubah Keputusan
Jakarta, PANGKEP NEWS – Perang dagang yang dipimpin Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memasuki fase baru dengan penetapan tarif resiprokal. Trump sering kali menunda tarif yang ia rancang sendiri, seolah melanggar ucapannya.
Berikut adalah beberapa kejadian di mana Trump melunak dengan keputusan tarifnya, dirangkum oleh PANGKEP NEWS, Rabu (23/4/2025).
Penundaan Tarif untuk Meksiko-Kanada
Trump sempat membatalkan kenaikan tarif 25% untuk Kanada dan Meksiko, kecuali energi Kanada sebesar 10%, yang seharusnya mulai berlaku pada 4 Februari 2025.
Menurut AFP, penundaan ini terjadi setelah Trump berbicara melalui telepon dengan Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum dan Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau.
Kenaikan tarif untuk Meksiko ditunda setelah negara tersebut berjanji mengerahkan 10.000 tentara ke perbatasan untuk mengatasi penyebaran fentanil, narkotika mematikan di AS yang telah menyebabkan 70.000 kematian akibat overdosis.
Kanada juga melakukan hal serupa dengan mengirimkan 10.000 petugas untuk mengamankan perbatasan dan menangani penyelundupan fentanil serta pencucian uang selama 30 hari.
Trump mengatakan, “Sekarang akan ada perjanjian lebih lanjut untuk kesepakatan jangka panjang,” merujuk pada penundaan tarif untuk Meksiko.
Di Truth Social, Trump menulis, “Sebagai Presiden, adalah tanggung jawab saya memastikan keselamatan SEMUA warga Amerika, dan itulah yang saya lakukan.”
Menunda Tarif Resiprokal
Pada 9 April 2025, Trump mengumumkan penundaan tarif balasan atau resiprokal selama 90 hari untuk negara-negara terdampak, kecuali China yang tarifnya justru dinaikkan menjadi 125%.
Penundaan ini memungkinkan lebih dari 75 negara mitra dagang AS untuk bernegosiasi tarif dengan AS.
Gedung Putih menekankan bahwa penundaan ini tidak mencakup semua tarif; tarif umum sebesar 10% atas sebagian besar barang impor ke AS tetap berlaku.
Harapan Negosiasi AS dengan China
Trump awalnya menarget China dengan tarif tertinggi, tetapi Beijing membalas dengan tarif tinggi juga. Trump mengisyaratkan potensi berakhirnya perang tarif dengan China setelah menaikkan tarif menjadi 245%, sementara China memberlakukan tarif balasan 145%.
Trump menyatakan tidak ingin menaikkan tarif lebih lanjut karena hal itu dapat mengurangi minat beli.
Penundaan Kenaikan Tarif untuk Barang Elektronik
Trump menunda kebijakan tarif baru pada beberapa barang elektronik konsumen. Smartphone dan komputer serta komponen lainnya seperti semikonduktor dikecualikan dari tarif baru tersebut.
Namun, Trump menekankan bahwa pengecualian ini tidak permanen dan produk tersebut tetap dikenakan Tarif Fentanil 20%.
Trump: Tarif China Tidak Akan Setinggi Itu
Sejak kembali ke Gedung Putih, AS telah mengenakan tarif tambahan 145% pada produk-produk China. Trump menekankan bahwa meskipun tarif ini tinggi, angka tersebut akan “turun secara substansial”.
Sekretaris Gedung Putih Karoline Leavitt menyatakan ada kemungkinan pembicaraan perdagangan dengan China, dan “bola bergerak ke arah yang benar” untuk mencapai kesepakatan.
China membalas tindakan Washington dengan tarif 125% untuk barang-barang AS, dan menekankan bahwa perang dagang tidak menguntungkan siapa pun.