Pasar Keuangan Terpengaruh oleh Ketegangan Geopolitik
PANGKEP NEWS melaporkan bahwa pasar keuangan Indonesia mengalami penurunan pada akhir minggu lalu dan akan menghadapi tantangan berat minggu ini akibat konflik yang terjadi.
- Pasar keuangan Indonesia mengalami penurunan akhir pekan lalu dan akan menghadapi tantangan berat minggu ini akibat perang
- Wall Street terpuruk akhir pekan lalu setelah ketegangan Iran-Israel meningkat
- Ketegangan geopolitik, kebijakan suku bunga, dan data ekonomi penting diprediksi akan mempengaruhi pasar hari ini
Jakarta – Pasar keuangan dalam negeri kembali dihadapkan pada berbagai tantangan dan katalis luar biasa minggu ini. Tren negatif yang menyebabkan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah dikhawatirkan terus berlanjut.
Selama minggu ini, pergerakan IHSG dan rupiah diperkirakan akan sangat tidak stabil. Hal ini dipicu oleh ketegangan antara Israel dan Iran yang semakin meningkat serta penantian investor terhadap keputusan suku bunga dari The Federal Reserve (The Fed) dan Bank Indonesia (BI). Informasi lebih lanjut mengenai sentimen dan proyeksi pasar hari ini dapat dibaca pada halaman 3 artikel ini. Investor juga dapat melihat agenda dan rilis data yang direncanakan untuk hari ini baik domestik maupun internasional di halaman empat.
Pada perdagangan Jumat (13/6/2025), IHSG turun 38,31 poin atau 0,53% ke level 7.166,06, menandai penurunan tiga hari berturut-turut.
Sebanyak 364 saham mengalami penurunan, 241 naik, dan 200 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 13,59 triliun melibatkan 25,71 miliar saham dalam 1,36 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun menyusut menjadi Rp 12.525,17 triliun.
Menurut data Refinitiv, hanya tiga sektor yang berhasil bertahan di zona hijau, yaitu bahan baku (0,77%), energi (0,36%), dan kesehatan (0,18%). Sektor dengan penurunan terdalam adalah properti (-1,03%), diikuti oleh keuangan (-0,86%) dan teknologi (-0,7%).
Berbeda dengan IHSG, saham emiten emas melonjak dan menjadi penopang agar IHSG tidak turun lebih dalam. PT Aneka Tambang (ANTM) naik 4,42% menyumbang 9,18 poin indeks dan MEDC menambah 1,75 poin indeks.
Saham-saham yang menekan IHSG ke zona merah terutama berasal dari emiten perbankan. PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) turun 1,47% menyumbang -9,18 poin indeks terhadap pelemahan IHSG. PT Bank Central Asia (BBCA) yang turun 1,1% menyumbang -6,82 poin indeks.
Ketegangan Israel-Iran Meningkat
Ketegangan geopolitik antara Israel dan Iran meningkat, menyebabkan efek signifikan pada pasar. Israel mengonfirmasi serangan militer besar-besaran ke target strategis di Iran, termasuk fasilitas nuklir dan pusat produksi rudal.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam pesan videonya menyatakan bahwa Israel berada pada ‘momen penentu dalam sejarah’ dan akan melanjutkan serangan terhadap Iran dalam beberapa hari ke depan.
Serangan ini diikuti oleh pernyataan dari pejabat militer Israel yang menyebutkan bahwa mereka telah menargetkan ‘puluhan’ lokasi nuklir dan militer di Iran, dengan klaim bahwa Iran memiliki cukup bahan untuk memproduksi 15 bom nuklir dalam waktu singkat.
Di sisi lain, media pemerintah Iran dan saksi mata melaporkan ledakan besar terdengar di beberapa kota, termasuk di sekitar fasilitas pengayaan uranium utama di Natanz. Seorang warga setempat menyatakan kepada Reuters bahwa suara ledakan terdengar berturut-turut di dekat fasilitas tersebut.
Seiring dengan ketegangan ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup pada posisi Rp16.290/US$ atau melemah 0,37% pada Jumat (13/6/2025). Secara mingguan, rupiah terkoreksi 0,12%.
Pelemahan rupiah terjadi setelah dolar AS menguat usai Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap fasilitas nuklir Iran. Reaksi ini menunjukkan bahwa mata uang AS masih menarik sebagai tempat berlindung aman meskipun dolar tidak lagi bertindak sebagai safe haven dalam beberapa bulan terakhir dan mengalami penurunan akibat kekhawatiran kebijakan tarif Presiden Trump.
Harga Minyak dan Emas Meningkat
Peningkatan ketegangan antara Israel dan Iran juga berdampak pada harga minyak dan emas dunia. Harga minyak mentah melesat, dengan minyak mentah WTI naik 7,26% ke level US$72,98 per barel dan minyak mentah Brent naik 7,02% ke level US$74,23 per barel pada perdagangan Jumat (13/6/2025).
Harga emas dunia juga mencatatkan kenaikan, menembus level US$3.432,18 per troy ons, naik 1,42% dari perdagangan sebelumnya, menjadikan kenaikan selama tiga hari berturut-turut. Emas semakin dipandang sebagai aset safe haven di tengah ketegangan geopolitik yang meningkat.
Kebijakan Suku Bunga Bank Sentral
Di tengah ketegangan ini, delapan bank sentral dari delapan negara, termasuk China, Jepang, Indonesia, AS, Inggris, Turki, Brasil, dan Swiss, akan mengadakan pertemuan untuk memutuskan kebijakan penting. Keputusan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) dan Bank Indonesia (BI) diharapkan mampu menenangkan sentimen negatif dari konflik Israel-Iran. Peningkatan ketegangan mendorong investor mengalihkan dana dari aset berisiko seperti saham ke aset safe haven seperti emas, yang dapat menyebabkan pelemahan pasar saham jika konflik berlanjut.
Evolusi Ekonomi 2025
PANGKEP NEWS akan mengadakan Economic Update dengan tema ‘Berjuang untuk Pertumbuhan 8% di Tengah Ketidakpastian Global’ sebagai forum bagi pemerintah, pelaku industri, dan pakar ekonomi untuk mendiskusikan strategi menghadapi tantangan dan peluang pertumbuhan ekonomi Indonesia. Acara ini akan menghadirkan pembicara seperti Arthur B. Laffer, ekonom legendaris Amerika Serikat dan mantan penasihat Presiden Ronald Reagan, serta Menteri Keuangan Sri Mulyani.
PANGKEP NEWS RESEARCH