Perbedaan Antara Investasi dan Trading yang Harus Diketahui Pemula!
Jakarta, PANGKEP NEWS — Investasi dianggap sebagai strategi efektif untuk menanamkan dana agar tidak tergerus inflasi. Salah satu contohnya adalah investasi saham yang dapat memberikan keuntungan tinggi. Namun, seiring dengan potensi keuntungan, terdapat juga risiko yang harus diperhatikan.
Terdapat dua cara untuk meraih keuntungan dari saham, yaitu trading dan investasi. Sudahkah Anda memahami perbedaan antara keduanya?
Analogi investasi dapat dijelaskan seperti lomba lari maraton dan sprint. Pelari maraton menempuh jarak panjang sekitar 30 kilometer, sedangkan pelari sprint hanya menempuh jarak 100 meter.
Sekilas, kedua jenis olahraga ini terlihat serupa, yaitu berlari menuju garis akhir. Akan tetapi, ada perbedaan penting selain panjang jaraknya.
Pelari maraton harus menjaga kecepatan yang konsisten untuk mempertahankan stamina hingga menyentuh garis akhir, sementara pelari sprint memanfaatkan seluruh tenaga untuk berlari secepat mungkin dalam jarak pendek.
Investasi dan trading saham memiliki kesamaan dengan lari maraton dan sprint. Meskipun tujuan keduanya adalah menghasilkan keuntungan dari saham, ada perbedaan signifikan antara investasi dan trading.
Berikut adalah empat perbedaan utama antara investasi dan trading saham yang perlu Anda ketahui:
Waktu
Investasi adalah kegiatan membeli aset dengan harapan mendapatkan keuntungan berupa kenaikan harga aset atau pendapatan tetap di masa depan. Sebaliknya, trading adalah aktivitas jual-beli saham.
Investor cenderung membeli saham berkinerja bagus dan menyimpannya dalam jangka panjang, bisa lebih dari lima tahun. Sebaliknya, trader memperlakukan saham sebagai komoditas di pasar, membeli saat harga rendah dan menjualnya ketika harga naik, dalam jangka waktu bulanan, harian, atau bahkan hitungan jam.
Dalam investasi saham, fluktuasi pasar jangka pendek bukanlah faktor utama. Investor sering kali justru senang ketika harga saham turun karena dapat menjadi peluang untuk membeli saham dengan harga murah.
Bagi trader, fluktuasi pasar sangat menentukan besarnya keuntungan yang bisa diperoleh.
Risiko
Baik investasi maupun trading saham memiliki risiko yang berbeda. Risiko investasi sering kali dianggap lebih kecil karena potensi return yang rendah dalam jangka pendek, namun dalam jangka panjang, potensi keuntungan yang didapat bisa sangat besar.
Sementara itu, trading memiliki risiko yang cukup tinggi dalam jangka pendek karena fluktuasi pasar dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti transaksi di pasar modal, harga komoditas, dan lain sebagainya.
Namun, potensi keuntungan dari trading dalam jangka pendek tentu lebih besar dibandingkan investasi.
Pendapatan Pasif dari Investasi
Ketika seseorang memutuskan untuk memegang saham dalam jangka panjang, tidak hanya capital gain (kenaikan harga saham) yang bisa diperoleh. Ada beberapa keuntungan lain yang bisa dinikmati, seperti dividen.
Ketika sebuah emiten mencatatkan laba, kemungkinan besar mereka juga akan membagikan dividen kepada para pemegang sahamnya, termasuk Anda.
Selain dividen, investor juga bisa mendapatkan manfaat lain ketika adanya aksi korporasi emiten yang bersangkutan. Manfaat ini tentu tidak dapat diperoleh oleh para trader yang melakukan jual-beli dalam jangka pendek.
Tujuan Membeli Saham
Jika seseorang ingin mendapatkan penghasilan tambahan dalam jangka pendek dan memiliki uang dingin dalam jumlah besar, maka trading bisa menjadi pilihan yang dipertimbangkan.
Namun, seorang trader harus jeli dalam melihat pergerakan harga saham di pasar dan menguasai analisis teknikal. Saat terjadi kerugian, mitigasi risiko yang dilakukan adalah stop loss dengan perhitungan yang sudah ditentukan untuk menyelamatkan modal.
Sementara itu, jika seseorang tidak memiliki uang dingin dalam jumlah besar, menginginkan pertumbuhan aset di masa depan, dan memiliki profil risiko investasi yang lebih konservatif, maka investasi sangat disarankan.
Mitigasi risiko yang bisa dilakukan oleh investor adalah dengan melakukan diversifikasi saham berdasarkan industrinya. Stop loss juga bisa dipertimbangkan, namun dalam pengaplikasiannya, investor akan melakukan stop loss jika saham yang dimiliki sudah tidak lagi berprospek cerah di masa depan.
(mkh/mkh)