Rencana Investasi Pertamina Tahun 2024
Jakarta – PT Pertamina (Persero) telah merencanakan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar US$ 6,57 miliar yang setara dengan Rp 106 triliun, berdasarkan asumsi kurs Rp 16.157 per US$, sepanjang tahun 2024.
Direktur Keuangan Pertamina, Emma Sri Martini, menyatakan bahwa nilai investasi perusahaan pada tahun 2024 ini mengalami kenaikan sebesar 4,3% dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang tercatat sebesar US$ 6,31 miliar.
Emma menambahkan bahwa peningkatan investasi ini menjadi bukti komitmen perusahaan dalam menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan.
“Melihat realisasi capex tahun 2023 dibandingkan dengan tahun 2024, kami tetap berkomitmen untuk terus tumbuh secara berkesinambungan,” ujarnya dalam Konferensi Pers Kinerja Pertamina 2024 di Grha Pertamina, Jakarta, Jumat (13/6/2025).
“Realisasi capex pada tahun 2024 menunjukkan peningkatan. Di tengah situasi yang menantang, kami tetap berkomitmen untuk disbursement capex yang meningkat 4,3% dibandingkan tahun 2023 karena kami menyatakan komitmen harus tumbuh berkelanjutan, dengan US$ 6,57 miliar yang sudah didisburse, dan rasio keuangan justru membaik,” tambahnya.
Dari sisi rasio keuangan, ia menjelaskan bahwa Debt to Equity perusahaan pada tahun 2024 menurun 10,3% menjadi 52,20% dari sebelumnya 58,18% di tahun 2023. Selain itu, Debt Service Coverage Ratio meningkat 10% menjadi 2,63% dari 2,39% pada tahun 2023.
“Debt to equity kami berhasil diturunkan ke level 52,2%, yang berarti pengelolaan utang dan aset kami tetap terjaga dengan baik meskipun situasi sulit. Manajemen liability kami tetap optimal,” jelasnya.
“Pendanaan internal kami optimalkan dengan digitalisasi, dan program optimalisasi biaya kami berhasil berkontribusi US$ 1,38 miliar untuk menjaga bottom line kami, meminimalkan dampak buruk dari semua parameter,” paparnya.
“Debt service coverage ratio kami juga terjaga baik, dengan perbaikan hingga level 2,63, menunjukkan bahwa service level untuk risiko serviceability kami mengalami perbaikan,” ujarnya.
Sementara itu, Credit Rating Pertamina dinyatakan BBB oleh S&P dan FitchRatings serta Baa2 oleh MOODY’S.
“Ini juga terlihat dari hasil rating kredit Pertamina secara grup, yang menunjukkan bahwa kami terjaga dengan baik dan prospek kami stabil,” ucapnya.
Pada tahun 2024, kontribusi penerimaan negara dari Pertamina tercatat mencapai Rp 401,8 triliun, naik 11% dari Rp 360,8 triliun pada tahun 2023. Kontribusi ini terdiri dari pajak Rp 275,7 triliun, dividen Rp 9,4 triliun, serta Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dan bonus tanda tangan Rp 116,7 triliun.
“Dari hasil rating dan angka-angka tadi, peningkatan kontribusi penerimaan negara kami justru terjadi di tengah situasi yang menantang, jika dibandingkan dengan tahun 2023, kontribusi pada tahun 2024 malah meningkat,” tandasnya.
Seperti diketahui, pada tahun 2024 Pertamina membukukan laba bersih sebesar US$ 3,13 miliar atau setara Rp 49,54 triliun. Pendapatan pada tahun 2024 mencapai US$ 75,33 miliar atau Rp 1.193,7 triliun, dengan EBITDA sebesar US$ 10,79 miliar atau Rp 171,04 triliun.