Warga Venesia Tolak Pernikahan Mewah Jeff Bezos
Jakarta, PANGKEP NEWS – Menjelang pernikahan mewah antara pendiri Amazon, Jeff Bezos, dan jurnalis Lauren Sanchez, gelombang protes terjadi di Venesia. Ratusan penduduk, sebagian besar kaum muda yang menyebut diri mereka sebagai “pekerja berpenghasilan rendah,” berkumpul di Jembatan Rialto untuk menentang acara yang diperkirakan menghabiskan biaya US$10 juta atau sekitar Rp160 miliar.
Para pengunjuk rasa mengalami kesulitan dalam membentangkan spanduk besar bertuliskan “Tidak Ada Tempat untuk Bezos” yang dilengkapi dengan gambar roket Blue Origin. Namun, semangat sekitar 300 penduduk Venesia semakin membara setelah mendengarkan pidato dari beberapa orator. Seperti dilaporkan oleh CNN International, banyak dari mereka terlihat meminum spritz dalam gelas plastik dan merokok rokok lintingan tangan.
Berbagai lokasi di kota ini disebut-sebut akan digunakan untuk acara tersebut, termasuk pulau San Giorgio Maggiore, di mana kelompok yang sama sempat memasang spanduk “No Bezos” di menara loncengnya. Salah satu tempat utama pernikahan yang diperkirakan adalah gedung bersejarah Misericordia, yang dulunya adalah gudang senjata abad ke-14 dan kini menjadi tempat acara eksklusif.
Upacara utama pernikahan direncanakan berlangsung pada 28 Juni, tetapi para demonstran bersikeras untuk menghalanginya. Federica Toninello, salah satu penggerak aksi, menyatakan bahwa mereka akan memblokir kanal, memenuhi jalan dengan tubuh mereka, dan menggunakan pelampung serta perahu untuk mencegah akses ke tempat tersebut.
Protes ini juga menjadi simbol perlawanan terhadap pariwisata mewah di Venesia yang dianggap menyebabkan kenaikan biaya hidup, membuat penduduk lokal terpaksa meninggalkan kota. Banyak penduduk mengeluhkan dampak dari acara besar seperti ini, dengan pekerjaan yang hanya bersifat sementara sementara fasilitas dasar semakin langka.
Namun, tidak semua warga setuju dengan protes tersebut. Beberapa melihat acara ini sebagai kesempatan ekonomi yang dapat menggerakkan roda ekonomi lokal. Gubernur Veneto, Luca Zaia, dan Wali Kota Venesia, Luigi Brugnaro, menganggap aksi ini memalukan dan berharap pernikahan tetap berlangsung di kota tersebut.