Presiden Suriah Marah! Eksekusi Calon Menteri yang Ternyata Agen Rahasia Israel
Jakarta, PANGKEP NEWS – Di Suriah, ada sosok bernama Kamel Amin Thaabet, seorang pengusaha tekstil ternama yang berhasil memasuki lingkaran kekuasaan di negara tersebut.
Selain kekayaannya, Kamel dikenal sebagai sosok visioner. Dia sering memberikan saran demi kemajuan ekonomi dan militer negeri. Akibatnya, dia dianggap bukan hanya sebagai pengusaha sukses, tetapi juga negarawan.
Pada tahun 1964, kehidupan Kamel memasuki fase baru yang tidak pernah diduga siapapun.
Suatu hari, Kamel dipanggil oleh sahabatnya, Jenderal Amin el-Hafiz, ke Istana Kepresidenan Damaskus. Di sana sudah hadir para jenderal dan menteri.
Sejak kudeta militer pada 8 Maret 1963, el-Hafiz menjabat sebagai Presiden Suriah. Kini, ia membutuhkan sosok yang memahami ekonomi, memiliki jaringan internasional, dan loyal terhadap negara untuk menarik investasi di sektor pertahanan negara.
Di hadapan semuanya, el-Hafiz menawarkan posisi langsung kepada Kamel.
“Apakah kamu bersedia menerima pekerjaan ini?” tanya el-Hafiz, seperti dikutip dari Our Man in Damascus: Elie Cohen karya Eli Ben-Hanan (1971).
Kamel terdiam, tidak menyangka akan ditawari posisi strategis sebagai Wakil Menteri Pertahanan Suriah.
“Bukankah itu keputusan yang terburu-buru?” jawabnya.
Namun, el-Hafiz dengan tegas menjawab, “Tidak. Saya memiliki wewenang untuk menyampaikan keputusan akhir. Anda bisa langsung bekerja setelah pelantikan,”
Bagi publik, tawaran itu adalah titik balik karier Kamel. Dari seorang pengusaha sukses dan penasihat pejabat, kini dia selangkah lagi menjadi aktor penting dalam pusat kekuasaan Suriah.
Tetapi, tidak ada yang tahu bahwa tawaran itu sebenarnya membuat Kamel gelisah. Bukan karena dia tidak siap menjabat, melainkan karena satu alasan besar yang tidak diketahui siapapun.
Kamel Amin Thaabet, sosok yang selama ini duduk di sebelah Presiden Suriah, menghadiri rapat-rapat rahasia militer, hingga menyusun strategi perang, sebenarnya adalah mata-mata Mossad yang memiliki nama asli Eli Cohen.
Pada 1960, dia direkrut oleh Mossad dan disamarkan sebagai pengusaha tekstil Suriah. Lewat strategi yang rapi, kariernya meningkat dan dia dipercaya menjadi penasihat elite Damaskus.
Dari sini, dia rutin hadir dalam rapat-rapat rahasia. Namun, tidak ada yang tahu, Kamel sebenarnya membocorkan semua strategi tersebut ke Israel lewat sandi morse di malam hari. Atas dasar ini, Suriah terus kalah melawan Israel dalam berbagai pertempuran.
Bahkan, ketika militer Suriah mulai curiga ada mata-mata, Kamel-lah yang menenangkan. Padahal, dialah intel yang dicari militer.
Setelah menerima tawaran sebagai wakil menteri, Kamel berkonsultasi dengan atasannya di Mossad. Pihak Mossad sempat ragu karena terlalu berisiko. Tapi, setelah pertimbangan matang, pimpinan Mossad menyetujui demi meraih informasi lebih banyak.
Setelah mendapat lampu hijau, Kamel bersiap menunggu pelantikan. Namun, nasib berkata lain.
Pada malam 24 Januari 1965, saat sedang bersiap mengirim informasi rahasia ke Tel Aviv, pintu apartemennya didobrak. Cohen terkejut. Dia sempat mencoba bunuh diri, tetapi gagal. Militer Suriah menangkap Kamel dengan alat bukti transmisi aktif.
Dari sinilah, identitas Kamel Amin Thaabet terungkap. Dia ternyata adalah agen rahasia Israel.
Presiden Murka & Dihukum Gantung
Keesokan paginya, Presiden Amin el-Hafiz marah besar karena orang yang paling dia percaya ternyata pengkhianat.
Saat itulah dia menyadari kebocoran strategi militer dan kekalahan demi kekalahan yang dialami Suriah selama ini berpangkal pada satu nama, yaitu Kamel Amin Thaabet alias Eli Cohen.
Selain itu, el-Hafiz juga merasa malu. Di hadapan para pemimpin Arab, reputasinya hancur. Bagaimana mungkin seorang agen rahasia Israel bisa menyusup begitu dalam hingga nyaris dilantik sebagai wakil menteri pertahanan?
“Di rumahnya di Damaskus, Amin el-Hafiz mondar-mandir, bingung dan tertekan. Dia menunggu dengan takut dan semakin gugup akan reaksi dari negara-negara Arab,” tulis Eli Ben-Hanan dalam Our Man in Damascus: Elie Cohen (1971).
Dalam Sell Like A Spy (2024) diceritakan, Presiden memerintahkan penyisiran terhadap orang yang pernah berinteraksi dengan Kamel. Hasilnya, 500 orang ditahan.
Lalu, Amin el-Hafiz juga memberikan persetujuan eksekusi dengan cara hukuman gantung kepada Cohen. Bagi Suriah, Eli Cohen adalah simbol penghinaan, meskipun Israel dan sejumlah negara Eropa mati-matian melobi agar hukuman mati dibatalkan.
Selama di penjara, Cohen disiksa setiap hari. Sampai akhirnya, pada 18 Mei 1965, siksaan berhenti karena Cohen dipindahkan ke tiang gantung untuk dihukum mati di depan publik Damaskus. Cohen pun meninggal dan jenazahnya tak pernah dikembalikan ke Israel.
Tragedi ini kemudian menjadi salah satu pemantik ketegangan panjang antara Suriah dan Israel yang tak pernah usai. Terbaru, pada Kamis (17/7/2025), Israel menyerang kantor Kementerian Pertahanan Suriah, tempat yang pernah dikunjungi oleh agen rahasia ulungnya.