Pekerjaan Ini Rentan Terkena PHK Massal, Jangan Terlalu Bangga dengan Gaji Tinggi
Jakarta – Kekhawatiran terkait teknologi kecerdasan buatan (AI) dan dampaknya terhadap pekerjaan manusia telah menjadi perhatian sejak kemunculan layanan populer ChatGPT dari OpenAI pada tahun 2022 lalu.
Namun, para pengusaha sering kali membantah argumen tersebut dengan menyatakan bahwa AI tidak akan menggantikan peran pekerja manusia, tetapi bertindak sebagai asisten.
Kini, narasi tersebut tampaknya tidak lagi bisa dipertahankan. Faktanya, banyak perusahaan teknologi besar yang melakukan PHK massal, sambil meningkatkan adopsi AI yang lebih produktif dan efisien dalam menjalankan tugas.
Baru-baru ini, beberapa CEO perusahaan besar di AS mulai secara terbuka mengakui dampak AI terhadap pekerjaan manusia. Salah satunya adalah CEO Ford Motor, Jim Farley.
“Kecerdasan buatan akan menggantikan setengah dari seluruh pekerja kantoran (white collar) di AS,” demikian ungkap Farley kepada penulis Walter Isaacson di Aspen Ideas Festival.
“AI akan menggeser banyak pekerja white collar,” ia menegaskan.
Sebelumnya, para pemimpin perusahaan bersikap hati-hati dalam mengakui secara terbuka berapa banyak pekerjaan yang dapat dipangkas dari perusahaan mereka sebagai akibat dari AI.
Namun, keadaan tampaknya mulai berubah, dan komentar Farley termasuk yang paling transparan.
Pernyataan tersebut muncul setelah CEO Amazon Andy Jassy mengumumkan kemungkinan akan ada PHK di masa mendatang karena perusahaan terus menerapkan AI dalam operasinya.
Walaupun dampak AI tidak seragam, teknologi ini kemungkinan akan memengaruhi pekerjaan administratif yang dapat diotomatisasi di Amazon. Misalnya, entri dan pemrosesan data, telemarketing, layanan pelanggan, penjadwalan, dan jalur perakitan manufaktur.
Jassy mengatakan bahwa ia juga berencana untuk mengurangi pekerja korporat perusahaan selama beberapa tahun ke depan. Pasalnya, AI akan membuat peran tertentu menjadi tidak relevan dikerjakan manusia.
Ia memberi tahu karyawan dalam sebuah catatan bahwa AI adalah kemajuan teknologi sekali seumur hidup dan telah mengubah cara Amazon beroperasi.
Sentimen tersebut juga digaungkan oleh CEO Anthropic, Dario Amodei, yang baru-baru ini memperingatkan bahwa AI dapat menghapus setengah dari semua pekerjaan white collar tingkat pemula.
Amodei meminta para pemimpin bisnis lainnya untuk berhenti menutupi kebenaran dan bersiap menghadapi kenyataan bahwa pengangguran di AS dapat meningkat antara 10-20%.
Beberapa pihak telah menanggapi seruan tersebut, termasuk Micha Kaufman, CEO pasar pekerja lepas Fiverr. Ia memberi tahu para karyawan bahwa mereka harus menerima kenyataan bahwa nantinya AI akan mengubah pekerjaan mereka dan bisnis itu sendiri.
“Ini adalah peringatan,” tulisnya dalam sebuah memo.
“Tidak masalah apakah Anda seorang programmer, desainer, manajer produk, ilmuwan data, pengacara, perwakilan layanan pelanggan, tenaga penjualan, atau staf keuangan, AI akan datang untuk Anda,” kata dia dalam memo tersebut.
Shopify baru-baru ini mengumumkan bahwa mereka tidak akan melakukan perekrutan baru kecuali para manajer terlebih dahulu membuktikan bahwa pekerjaan tersebut tidak dapat dilakukan oleh AI.
Marianne Lake, kepala divisi bisnis konsumen dan komunitas JPMorgan Chase, memberi tahu para investor bahwa ia memperkirakan akan mengurangi 10% stafnya dalam beberapa tahun ke depan dan menggantinya dengan sistem AI.
Bahkan perusahaan teknologi besar telah memulai PHK yang signifikan saat mereka berlomba untuk berinvestasi dalam pengembangan AI.
Microsoft mengonfirmasi bahwa mereka akan memangkas sekitar 9.000 pekerjaan karena terus menggelontorkan dana ke dalam AI.
“Kami terus menerapkan perubahan organisasi yang diperlukan untuk memposisikan perusahaan dan tim dengan sebaik-baiknya agar sukses di pasar yang dinamis,” kata Microsoft dalam sebuah pernyataan.
Bulan lalu, Procter & Gamble, yang memproduksi popok, deterjen, dan barang-barang rumah tangga lainnya, mengumumkan akan memangkas 7.000 pekerjaan, atau sekitar 15% dari peran non-manufaktur.
Berbeda dengan nasib karyawan white collar, pekerjaan kerah biru (blue collar) tampak lebih terlindungi. Para lulusan perguruan tinggi dengan pekerjaan white collar di bidang teknologi, keuangan, hukum, dan konsultasi justru diprediksi akan terkena dampak besar.
Hal ini memicu ketakutan terhadap ancaman resesi dan generasi lulusan yang kecewa dengan nasibnya yang terbengkalai. Meski memiliki CV yang mengesankan, para lulusan white collar akan kesulitan mendapatkan perusahaan yang mau menampung mereka sebagai karyawan, menurut laporan PANGKEP NEWS.