Jakarta –
Para kardinal dari seluruh dunia akan mengadakan konklaf pada Rabu (7/5/2025) untuk memilih Paus berikutnya. Salah satu tokoh yang menonjol untuk posisi tertinggi di Gereja Katolik Roma adalah Kardinal Luis Antonio Tagle dari Filipina.
Menurut laporan PANGKEP NEWS, sebenarnya Kardinal Tagle tidak memiliki ambisi besar untuk menjadi Paus. Bahkan, dia tertawa ketika ditanya pada tahun 2015 apakah dia pernah berpikir bahwa suatu hari nanti dia bisa menjadi Paus.
“Saya membuat pengakuan publik di sini. Saya bahkan tidak bisa mengatur hidup saya sendiri. Bagaimana saya bisa membayangkan memimpin sebuah komunitas global?” ucapnya.
Meskipun jawabannya tampak merendah, kardinal asal Filipina ini termasuk di antara mereka yang disebut-sebut sebagai kandidat pengganti Paus Fransiskus. Jika terpilih, ia akan menjadi Paus pertama dari Asia.
Tagle, yang akrab disapa “Chito,” digambarkan sebagai “Fransiskus Asia” karena pandangan progresifnya dan gaya hidupnya yang sederhana.
Dia pernah mengkritik sikap “keras” terhadap ibu tunggal, komunitas LGBT, serta perceraian. Sebagai Uskup Imus, sebuah kota dekat Manila, ia sering naik jeepney, kendaraan umum yang murah, dan mengundang orang miskin untuk makan bersamanya.
Dikenal sebagai sosok yang ramah dan rendah hati, Tagle juga gemar bernyanyi dan menari. Video-videonya di Tiktok telah banyak dibagikan, membuatnya mendapat popularitas di Filipina, di mana karaoke menjadi aktivitas yang sangat digemari.
“Saat memberikan pidato dan ceramah, dia bukan pendeta kaku yang biasa. Dia bernyanyi. Dia seorang Filipina. Dia adalah pastor karaoke,” ujar Michael Xiao Chua, sejarawan dari Universitas De La Salle. “Tagle memiliki gaya yang berbeda, dan seperti bintang rock setelah misa.”
Masa Kecil dan Kontroversi
Tagle, kini berusia 67 tahun, lahir di Imus, dekat Metro Manila, dari orang tua Katolik yang bekerja di bidang perbankan. Saat kecil, Tagle dikabarkan ingin menjadi dokter, tetapi akhirnya memilih jalur gereja setelah seorang pendeta membujuknya mendaftar ke seminari di Kota Quezon.
Dia meraih gelar doktor di Universitas Katolik Amerika dan menjadi Uskup Imus, kemudian Uskup Agung Manila. Pada tahun 2012, ia diangkat menjadi kardinal oleh Paus Benediktus XVI.
“Beliau berasal dari keluarga yang sangat sederhana. Tidak miskin tapi juga tidak kaya,” kata Mary John Mananzan, seorang biarawati Benediktin yang telah mengenal Tagle selama beberapa dekade.
Namun, kenaikannya ke puncak gereja Katolik tidak lepas dari kontroversi. Tagle menjabat sebagai presiden Caritas Internationalis dari 2015 hingga 2022 ketika kepemimpinan diganti karena kekhawatiran tentang kesalahan manajemen. Tagle menyatakan bahwa keputusan tersebut tidak terkait dengan tuduhan pelecehan seksual atau pengelolaan dana yang salah.
Pada bulan Maret ini, sebuah kelompok penyintas, Survivors Network of those Abused by Priests, menyerukan penyelidikan terhadap Tagle, dan lima kardinal lainnya, terkait penanganan kasus dugaan pelecehan anak oleh Caritas Internationalis di Selandia Baru dan Republik Afrika Tengah. Tagle belum memberikan komentar mengenai hal tersebut.
Para aktivis menyatakan bahwa Tagle belum cukup berusaha untuk mengatasi kasus pelecehan seksual di gereja. Anne Barrett Doyle, salah satu direktur BishopAccountability.org, mengatakan minggu lalu bahwa gereja di Filipina mengalami “zaman kegelapan” dalam isu ini, dan pedoman penanganan tuduhan belum dipublikasikan di situs web keuskupan agung Manila atau Konferensi Waligereja Filipina.
“Jika Kardinal Tagle bahkan tidak dapat mendorong rekan-rekannya di negara asalnya untuk menerbitkan pedoman, apa yang dapat kita harapkan darinya sebagai Paus gereja global?” ujar Doyle.
Di Filipina, Tagle juga dituduh lambat dalam mengutuk perang melawan narkoba yang digagas mantan presiden Rodrigo Duterte. Sebanyak 30.000 orang tewas dalam tindakan keras ini, yang dimulai setelah Duterte menjabat pada bulan Juni 2016.
Banyak korban adalah pemuda yang ditembak mati di jalan. Pada tahun 2017, Tagle menulis surat pastoral yang mengkritik pembunuhan tersebut.
“Kita tidak dapat memerintah negara dengan membunuh. Kita tidak dapat membangun budaya Filipina yang manusiawi dan bermartabat dengan membunuh,” katanya.
Perang melawan narkoba yang diprakarsai Duterte menandai masa sulit bagi gereja Katolik di Filipina. Beberapa pastor berani mengambil risiko pembalasan dengan mengkritik pembunuhan tersebut, dan meskipun ada kemarahan internasional, Duterte tetap sangat populer di kalangan warga yang mayoritas Katolik.
Tagle menentang pengesahan RUU Kesehatan Reproduksi di Filipina, yang menyediakan alat kontrasepsi gratis dan informasi tentang keluarga berencana. Ia juga menolak hak aborsi.