Indonesia Gencar Membangun Pembangkit Energi Hijau, Optimisme Menguat di ESDM
Jakarta – Indonesia terus meningkatkan kapasitas pembangkit listrik dari sumber energi baru dan terbarukan. Dalam satu dekade mendatang, diproyeksikan penambahan pembangkit berbasis EBT mencapai 42,6 Giga Watt (GW), mendominasi bauran EBT hingga 61%.
Rencana pengembangan ini telah dimasukkan ke dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034.
Menurut Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, dominasi penambahan EBT dalam dekade mendatang menumbuhkan optimisme bagi Indonesia.
Di era transisi energi ini, pertumbuhan energi hijau global telah meningkat dua kali lipat. Eniya menyatakan bahwa ini adalah bukti bahwa pasar EBT di berbagai negara telah berkembang pesat.
“Investasi pada energi hijau mengalami peningkatan dua kali lipat, menunjukkan bahwa pasar global kini lebih digerakkan oleh energi hijau,” ujar Eniya kepada PANGKEP NEWS dalam program Economic Update, Selasa (8/7/2025).
Untuk mendukung pembangunan besar-besaran pembangkit EBT, pemerintah juga berencana mengurangi penggunaan gas untuk pembangkit, memfokuskan gas untuk kebutuhan industri.
Langkah ini bertujuan mencapai keseimbangan dengan memaksimalkan sumber EBT domestik. “Di RUPTL, penggunaan gas sedikit diturunkan untuk mengakomodasi tambahan EBT dan baterai,” jelasnya.
Diharapkan peningkatan EBT di Indonesia dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan mencapai 8% pada tahun 2029.
Dalam RUPTL 2025-2034, rencana total penambahan kapasitas pembangkit listrik baru mencapai 69,5 GW hingga 2034. Dari jumlah tersebut, 42,6 GW atau 61% berasal dari pembangkit listrik berbasis EBT, sementara 10,3 GW atau 15% dari sistem penyimpanan energi.
Jenis pembangkit EBT yang terbesar adalah energi surya dengan porsi 17,1 GW, diikuti oleh Air dengan 11,7 GW, Angin 7,2 GW, Panas bumi 5,2 GW, Bioenergi 0,9 GW, dan Nuklir 0,5 GW.
Sementara itu, kapasitas sistem penyimpanan energi terdiri dari PLTA pumped storage sebesar 4,3 GW dan baterai 6,0 GW. Untuk pembangkit fosil, akan dibangun 16,6 GW, terdiri dari gas 10,3 GW dan batubara 6,3 GW.