Indonesia Mengamati Taktik Malaysia dan China dalam Menghadapi Tarif Trump
Jakarta, PANGKEP NEWS – Dalam menghadapi dampak dari kebijakan tarif tinggi yang diberlakukan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada produk ekspor, pemerintah Indonesia tidak tinggal diam.
Di samping perundingan resmi dengan pihak AS, Kementerian Perdagangan (Kemendag) Indonesia ternyata mengadopsi strategi diam-diam dengan mengamati bagaimana negara-negara pesaing mengelola diplomasi dalam merespons tarif perdagangan Trump.
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyatakan bahwa Indonesia secara aktif mengamati dan membandingkan tarif yang diterima negara pesaing pada produk serupa. Hal ini dilakukan untuk mempertahankan daya saing produk ekspor Indonesia di pasar AS.
“Kami mengamati bagaimana negara-negara pesaing menyusun diplomasi mereka dan tarif yang mereka terima,” ujar Budi kepada wartawan setelah menghadiri Rapat Kerja dengan Komisi VI DPR RI di kompleks parlemen, Jakarta, Selasa (20/5/2025).
Ia menyebutkan, ada sepuluh produk ekspor utama Indonesia ke AS yang menjadi fokus utama. Produk-produk ini dinilai memiliki potensi besar dan penting untuk dipertahankan agar tetap kompetitif.
“Proses negosiasi kami melibatkan identifikasi produk yang diekspor ke sana. Kami mengelompokkan 10 produk ekspor utama yang memiliki pasar bagus di Amerika. Jadi, harus kita pertahankan,” jelasnya.
Strategi ini lebih lanjut dilakukan dengan memetakan produk ekspor Indonesia berdasarkan klasifikasi HS dua digit, kemudian mencari tahu siapa pesaingnya dan tarif yang dikenakan kepada mereka.
“Misalnya seperti mesin peralatan listrik. Pesaingnya adalah China, Jerman, dan Malaysia. Kami secara diam-diam meneliti berapa persen tarif yang dikenakan kepada negara pesaing. Jangan sampai tarif yang kita terima lebih tinggi, karena kita tidak bisa bersaing,” kata Budi.
Ia menegaskan, jika Indonesia dikenai tarif yang lebih tinggi dibanding pesaing, maka daya tawar akan melemah. Strategi harus diubah agar tidak kehilangan pasar. “Setidaknya jika tarifnya sama masih aman. Namun, jika lebih rendah, kita harus mencari strategi lain. Dengan strategi tarif, kita harus berusaha agar tetap eksis di pasar,” terangnya.
“Contohnya, untuk mesin peralatan listrik, pesaing kita seperti Malaysia mendapatkan tarif lebih rendah. Jika kita dikenai 32% dan mereka 24%, tentu kita kalah. Setelah negosiasi, kami berharap bisa mendapatkan tarif masuk yang lebih kecil agar bisa bersaing, karena produk kita sama,” pungkasnya.
(wia)