Jakarta, PANGKEP NEWS
Indeks Harga Konsumen (IHK) diprediksi mengalami penurunan atau deflasi pada Juni 2025. Penurunan IHK ini disebabkan oleh melandainya harga beberapa bahan pangan dan bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi.
Badan Pusat Statistik akan merilis data IHK Juni 2025 pada Selasa (1/7/2025).
Berdasarkan konsensus pasar yang diambil oleh PANGKEP NEWS dari 11 lembaga, IHK secara bulanan (month to month/mtm) diproyeksikan turun atau mengalami deflasi sebesar 0,06%. Sementara secara tahunan (year on year/yoy), IHK diprediksi masih naik atau mengalami inflasi sebesar 1,69%.
Inflasi inti diperkirakan tetap stabil di 2,41%.
Sebagai informasi, IHK pada Mei mengalami penurunan atau deflasi sebesar 0,37% sementara secara tahunan mencatat inflasi 1,6% (yoy).
Jika deflasi IHK terjadi lagi, ini akan menjadi kali keempat sepanjang tahun ini setelah Januari (-0,76%), Februari (-0,48%), dan Mei (0,37%). Secara historis, IHK pada Juni dalam lima tahun terakhir menunjukkan inflasi 0,14% (mtm). Pada bulan Juni, inflasi biasanya meningkat akibat kenaikan pengeluaran untuk liburan sekolah dan biaya sekolah.
Deflasi ini bisa membawa kabar baik maupun buruk. Penurunan harga pangan dan BBM non-subsidi bisa mengurangi beban masyarakat.
Namun, deflasi juga dapat mencerminkan melemahnya daya beli. Terlebih, Indonesia sering mencatat deflasi tahun ini. Penurunan harga barang bisa disebabkan oleh melemahnya permintaan, bukan hanya karena harga kembali normal atau pasokan yang mencukupi.
Hosianna Situmorang, ekonom Bank Danamon, memprediksi IHK akan deflasi karena menurunnya harga komoditas pangan seperti minyak goreng, gula, daging sapi, ayam, kedelai, cabai, cabai merah, dan bawang putih.
Selain itu, melemahnya harga minyak global juga menurunkan harga BBM non-subsidi. Harga emas dan perhiasan juga mengalami penurunan.
Namun, beberapa komoditas masih menunjukkan kenaikan harga, seperti rokok, rokok filter, beras, bawang merah, serta tarif listrik yang kembali normal.
Josua Pardede, kepala ekonom Bank Permata, mengatakan beberapa harga pangan kembali naik setelah penurunan sebelumnya. Inflasi kelompok harga bergejolak (volatile food) diprediksi meningkat terutama karena naiknya harga beberapa komoditas seperti bawang merah dan beras.
Harga bawang merah naik karena gangguan produksi akibat kondisi tanah yang lembab dan serangan hama pasca musim hujan yang mempengaruhi pasokan.
Sebaliknya, inflasi administered prices (harga diatur pemerintah) diperkirakan mencatat deflasi karena turunnya harga BBM non-subsidi sesuai kebijakan pemerintah.
Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPSN) menunjukkan pada Juni 2025, harga beras naik 0,93% menjadi Rp 15.483/kg, harga daging ayam turun 0,02% menjadi Rp 35.433, harga telur turun 0,34% menjadi Rp 29.747 per kg, sementara harga cabai rawit masih naik 2,63%.
Sementara itu, PT Pertamina (Persero) merilis daftar harga baru untuk BBM non-subsidi yang berlaku mulai awal Juni 2025.
Harga BBM Pertamax atau RON 92 turun menjadi Rp12.100 per liter dari sebelumnya Rp12.400 untuk wilayah DKI Jakarta. Tidak hanya Pertamax, harga Pertamax Turbo menjadi Rp13.050 per liter dari sebelumnya Rp13.300 per liter.
Harga Pertamax Green atau RON 95 turun menjadi Rp12.800 per liter dari sebelumnya Rp13.150 per liter di bulan Mei 2025.
Harga BBM solar seperti Dexlite (CN 51) turun menjadi Rp12.740 per liter dari sebelumnya Rp13.350 per liter.
Sedangkan Pertamina Dex (CN 53) harganya turun menjadi Rp13.200 per liter dari sebelumnya Rp13.750 per liter.
Namun, harga Pertalite dan solar subsidi tetap tidak berubah.
Penurunan harga ini merujuk pada Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM No. 245.K/MG.01/MEM.M/2022 sebagai perubahan atas Kepmen No. 62 K/12/MEM/2020 mengenai Formula Harga Dasar Dalam Perhitungan Harga Jual Eceran Jenis Bahan Bakar Minyak Umum Jenis Bensin dan Minyak Solar yang Didistribusikan Melalui Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum.
PANGKEP NEWS RESEARCH
(mae/mae)