Indonesia Penuh Energi Fosil, Namun Impor BBM dan LPG Masih Tinggi
Jakarta, PANGKEP NEWS – Anggota Komisi XII DPR RI, Eddy Soeparno, menyoroti bahwa Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah, di antaranya energi fosil seperti batu bara dan gas.
Eddy menjelaskan bahwa negara ini memiliki cadangan minyak mentah yang besar dan produksi batu bara dapat mencapai 900 juta. Meski demikian, Indonesia masih harus mengimpor energi untuk kebutuhan domestik.
“Di tengah kelimpahan sumber energi yang kita miliki, kebutuhan harian kita tetap harus diimpor dari luar,” ujar Eddy dalam acara Coffee Morning PANGKEP NEWS, Rabu (17/7/2025).
Ia juga menambahkan bahwa meskipun memiliki cadangan gas dan batu bara, Indonesia masih menghadapi tantangan impor LPG (Liquefied Propane and Butane). Ini disebabkan oleh defisit gas yang terjadi lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.
“Tahun lalu, volume subsidi LPG mencapai 8,17 juta kiloliter dan itu pun harus diimpor. Sekitar 75% dari LPG yang kita gunakan untuk memasak adalah impor,” jelas Eddy.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa dari Januari hingga Desember 2024, Indonesia mengimpor 3,94 miliar kilogram LPG atau sekitar 3,94 juta ton dari Amerika Serikat.
Total nilai impor LPG dari AS selama 2024 mencapai US$ 2,03 miliar atau sekitar Rp 32,22 triliun (dengan kurs rata-rata 2024 sebesar Rp 15.847 per US$).
Selain LPG, Indonesia juga mengimpor minyak mentah dari AS. Sepanjang 2024, impor minyak dari AS tercatat sebesar 668,47 juta kg dengan nilai US$ 430,87 juta atau sekitar Rp 6,8 triliun.
Selama 2024, total impor LPG, termasuk propane dan butane, mencapai 6,89 miliar kg atau 6,89 juta ton. Nilai total impor LPG pada tahun tersebut mencapai US$ 3,79 miliar.
Impor LPG dari Amerika Serikat mendominasi dengan 57% dari total volume impor LPG Indonesia, dan dari sisi nilai mencapai 53% dari total impor LPG Indonesia.
“Ini adalah masalah yang harus dihadapi. Banyak pelaku usaha yang sudah mulai beralih dari energi fosil ke energi terbarukan dengan menggunakan gas sebagai langkah transisi,” tegas Eddy.