Jakarta, PANGKEP NEWS Indonesia
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa Indonesia tetap berkomitmen untuk melaksanakan transisi energi yang sudah disepakati dalam Perjanjian Paris, meskipun banyak negara mulai meragukan komitmen mereka setelah salah satu negara penggagas, Amerika Serikat, memutuskan untuk mundur.
Oleh karena itu, Bahlil menyatakan bahwa para investor tidak perlu khawatir untuk berinvestasi di Indonesia. Negara ini sedang membangun peta jalannya sendiri untuk terus melaksanakan transisi energi tersebut.
“Meskipun banyak negara mulai meragukan dan kurang konsisten, saya ingin menyampaikan bahwa Indonesia akan selalu berkomitmen menjalankan transisi ini dengan penuh kehati-hatian,” ujar Bahlil dalam acara Global Hydrogen Ecosystem 2025 Summit & Exhibition di JCC Senayan, Selasa (15/4).
Menurutnya, komitmen pemerintah ini terlihat dari upaya membangun ekosistem baru untuk mencapai transisi energi melalui hidrogen. Meskipun biaya yang diperlukan lebih tinggi dibandingkan listrik yang ekosistemnya sudah ada, langkah ini harus diambil.
“Ini adalah langkah baru dalam mewujudkan Paris Agreement. Presiden Prabowo telah mencanangkan asta cita yang mencakup kedaulatan energi mandiri, termasuk energi hijau, energi baru terbarukan, dan hidrogen sebagai bagian dari visi besar beliau,” jelasnya.
Di hadapan Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Fabien Penone, Bahlil menegaskan bahwa Indonesia tidak akan mundur dalam menjalankan transisi energi untuk mencapai Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060.
“Jadi Pak Dubes Prancis tidak perlu meragukan komitmen Indonesia. Sebaiknya Bapak tanyakan kepada negara-negara yang menginisiasi Paris Agreement sejauh mana komitmen mereka. Karena Indonesia sudah sangat konsisten menjalankannya,” tambahnya.
Bahlil juga mengungkapkan bahwa saat ini pemerintah sedang menyusun regulasi untuk pengembangan hidrogen, terutama untuk kendaraan. Insentif akan menjadi faktor utama yang dipertimbangkan untuk diberikan kepada pelaku usaha yang ingin berinvestasi.
“Kami sedang membahas insentifnya. Jika sudah ada, kita akan menanyakan siapa yang akan masuk dan berinvestasi. Kami meminta proposal mereka. Jika disetujui, kami akan menjalankannya,” tutupnya.