Jakarta – Proyek Baterai Kendaraan Listrik Terbesar di Asia
Presiden RI Prabowo Subianto baru-baru ini meresmikan peletakan batu pertama atau groundbreaking dari proyek ekosistem baterai kendaraan listrik terbesar di Asia yang berlokasi di Karawang, Jawa Barat.
Proyek industri baterai EV terbesar di Asia ini memiliki total investasi dari hulu hingga hilir mencapai US$ 5,9 miliar atau setara dengan Rp 96,04 triliun (dengan asumsi kurs Rp 16.278 per US$).
Siapa Pemilik Proyek Ini?
Secara operasional, proyek ini dimiliki oleh PT Aneka Tambang (Antam), PT Indonesia Battery Corporation (IBC), dan perusahaan asal China Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co. Ltd. (CBL), yang merupakan perusahaan patungan dari CATL, Brunp, dan Lygend.
Dalam kesempatan peresmian ini, Presiden Prabowo mengungkapkan bahwa cita-cita hilirisasi telah ada sejak lama, mulai dari Presiden RI pertama Soekarno hingga Presiden ke-7 Joko Widodo yang secara nyata memulai program tersebut. “Proyek hilirisasi ini dimulai empat tahun lalu, dan kita dapat melihat peran Presiden ke-7 Jokowi. Saya selalu menekankan pentingnya menghormati pendahulu dan mereka yang berjasa,” jelas Prabowo.
Prabowo menambahkan, “Groundbreaking ini menunjukkan keseriusan dari para pemimpin kita dalam bekerja sama dengan mitra dari Tiongkok. Saya anggap ini adalah langkah kolosal dan terobosan luar biasa.”
Proyek Industri Baterai Terintegrasi Terbesar di Asia
Proyek ini mencakup enam usaha patungan (Joint Venture/JV) yang melibatkan proyek dari hulu hingga hilir. Rincian JV satu hingga tiga merupakan bagian dari ekosistem baterai di sisi hulu, sedangkan JV empat hingga enam berada di sisi hilir.
Hulu:
- JV 1: Proyek pertambangan nikel PT Sumberdaya Arindo (SDA) dengan kapasitas produksi nikel saprolite 7,8 juta wet metric ton (wmt) dan limonite 6 juta wmt, total 13,8 juta wmt dengan kepemilikan saham PT Antam 51% dan CBL 49%. Proyek ini sudah berproduksi sejak tahun 2023.
- JV 2: Proyek fasilitas pemurnian dan pemrosesan (smelter nikel) jenis Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) PT Feni Haltim (FHT) dengan kapasitas 88 ribu ton refined nickel alloy per tahun, dimiliki CBL 60% dan PT Antam 40%. Target produksi pada tahun 2027.
- JV 3: Proyek fasilitas pemurnian dan pemrosesan (smelter nikel) jenis High Pressure Acid Leaching (HPAL) PT Nickel Cobalt Halmahera (HPAL JVCO) dengan kapasitas 55 ribu ton MHP per tahun, dimiliki CBL 70% dan PT Antam 30%. Target produksi pada tahun 2028.
Hilir:
- JV 4: Proyek material baterai untuk memproduksi bahan katoda, kobalt sulfat, dan prekursor terner dengan kapasitas 30 ribu ton Li-hydroxide di Halmahera Timur, Maluku Utara, dimiliki CBL 70% dan PT IBC 30%. Target produksi pada tahun 2028.
- JV 5: Proyek sel baterai PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) berlokasi di Artha Industrial Hill (AIH) dan Karawang New Industry City (KNIC), terdiri dari fase 1 dengan kapasitas 6,9 GWh/tahun dan fase 2 dengan kapasitas 8,1 GWh/tahun, total kapasitas 15 GWh/tahun, dimiliki CBL 70% dan PT IBC 30%. Fase 1 ditargetkan mulai produksi pada tahun 2026 dan fase 2 pada tahun 2028.
- JV 6: Proyek daur ulang baterai berlokasi di Halmahera Timur, Maluku Utara dengan kapasitas 20 ribu ton logam/tahun, dimiliki CBL 60% dan PT IBC 40%. Target produksi pada tahun 2031.
Khusus JV 5, fase pertama proyek sel baterai jenis Li-ion ini ditargetkan mulai beroperasi penuh pada akhir tahun 2026. Sementara itu, fase kedua, yang akan beroperasi dengan kapasitas hingga 15 GWh/tahun, ditargetkan beroperasi pada tahun 2028.
(pgr/pgr)