Rusia Terang-terangan Sebut Senjata yang Bisa Membuat NATO Terpecah
Jakarta, PANGKEP NEWS – Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, menyampaikan peringatan mengenai keputusan negara-negara anggota NATO untuk secara signifikan menaikkan anggaran pertahanan. Langkah ini, menurut Lavrov, bisa menjadi bumerang bagi NATO sendiri dan mengakibatkan kehancuran aliansi tersebut.
Lavrov memberikan pernyataan ini sebagai respons terhadap komentar Menteri Luar Negeri Polandia, Radoslaw Sikorski, yang sebelumnya mengklaim bahwa perlombaan senjata antara Rusia dan negara-negara Barat berpotensi menggulingkan Presiden Rusia, Vladimir Putin.
Lavrov menyatakan, “Karena dia [Sikorski] merasa dirinya seorang peramal, mungkin dia juga bisa melihat bahwa peningkatan anggaran yang sangat besar dari negara-negara anggota NATO, menurut penilaian saya, justru akan membawa pada kehancuran organisasi ini.”
Pada pekan lalu, para pemimpin NATO sepakat untuk meningkatkan anggaran pertahanan secara tajam sebagai tanggapan atas tuntutan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Dalam pertemuan tersebut, para pemimpin aliansi kembali menegaskan komitmen kolektif untuk melindungi satu sama lain dari apa yang mereka anggap sebagai ancaman dari Rusia.
Sementara itu, Rusia, yang telah melakukan invasi besar ke Ukraina sejak 2022 setelah delapan tahun konflik di timur Ukraina, menolak tuduhan Barat bahwa Moskow berniat menyerang negara anggota NATO. Rusia dan Amerika Serikat sebelumnya telah memperingatkan bahwa eskalasi semacam itu bisa memicu Perang Dunia Ketiga.
Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengungkapkan pada Jumat lalu bahwa pemerintahannya berencana untuk mengurangi pengeluaran militer mulai tahun depan. Pernyataan ini menjadi sinyal menarik di tengah ketegangan yang terus meningkat antara Rusia dan NATO.
Meskipun demikian, data anggaran Rusia menunjukkan bahwa belanja pertahanan tetap berada pada tingkat yang sangat tinggi. Pemerintah Rusia meningkatkan anggaran pertahanan negara hingga seperempat untuk tahun anggaran 2025, mencapai 6,3% dari PDB, angka tertinggi sejak era Perang Dingin. Bahkan, porsi belanja pertahanan ini mencakup sekitar 32% dari total anggaran federal Rusia untuk tahun 2025.
Sementara itu, NATO dan sekutunya mengemukakan bahwa peningkatan anggaran pertahanan diperlukan untuk menghadapi ancaman geopolitik yang meningkat, tidak hanya dari Rusia, tetapi juga dari negara-negara lain seperti China.
Namun, keputusan untuk meningkatkan anggaran hingga mencapai 3,5% dari PDB untuk pertahanan dan 1,5% untuk infrastruktur militer menimbulkan kekhawatiran tentang keberlanjutan fiskal di banyak negara anggota, terutama di Eropa.
Beberapa negara seperti Prancis, Belgia, dan Italia diperkirakan akan menghadapi kesulitan dalam memenuhi target baru tersebut, sementara Spanyol secara langsung menolak kesepakatan tersebut.