Sandiaga Uno Beberkan Fakta Menarik Tentang ‘Rojali’, Sebut Juga ‘Rogana’
Jakarta, PANGKEP NEWS – Pengusaha terkenal, Sandiaga Uno, memberikan tanggapan mengenai fenomena ‘rombongan jarang beli’ (Rojali) dan ‘rombongan hanya nanya’ (Rohana) yang sedang marak di pusat perbelanjaan di Indonesia.
Pebisnis yang juga merupakan mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di era Presiden Joko Widodo ini menyatakan bahwa istilah tersebut berbeda dengan saat dia menjabat. Sandiaga menciptakan istilah Rojali yang berarti ‘rombongan jadi beli’ dan Rogana yang berarti ‘rombongan enggak pakai nawar-nawar’.
‘Rojali-Rohana sedang marak ya. Padahal dulu saat saya di pemerintahan, Rojali berarti rombongan yang jadi beli. Jadi jika dulu ada yang menyebut Rohana, rombongan yang hanya bertanya-tanya atau Rohali, rombongan yang hanya melihat-lihat. Saya dulu menciptakan Rojali, rombongan yang jadi beli dan Rogana, rombongan yang enggak pakai nawar-nawar,’ kata Sandiaga dalam sebuah video yang diunggah di akun Instagram @sandiuno, pada Rabu (6/8/2025).
Bahkan, Sandiaga juga membandingkan dengan salah satu pusat perbelanjaan di Amerika Serikat yang tetap ramai dikunjungi. Sebagai informasi, ekonomi AS juga didukung oleh konsumsi masyarakat.
‘Saya sekarang berada di sebuah mal yang sangat ramai, yaitu Tyson Corner Center di Fairfax County. Kita bisa melihat bagaimana mal ini sangat ramai dikunjungi masyarakat. Kita bisa melihat ekonomi Amerika juga digerakkan oleh konsumsi,’ ujar Sandiaga.
Sandiaga menambahkan, adanya Rojali dan Rogana saat dirinya masih di pemerintahan dapat mendorong usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal serta berdampak pada konsumsi masyarakat.
Selain itu, Sandiaga menyarankan pelaku usaha, terutama pengelola mal, untuk menghadirkan program atau kegiatan yang dapat menarik masyarakat kembali ke mal.
‘Rojali dan Rogana dulu itulah yang mendorong UMKM lokal. Program-program yang bisa dilakukan mal-mal untuk meramaikan kunjungan pelanggan bisa berupa event ekonomi kreatif, sales, promo, dan lain-lain,’ ungkap Sandiaga.
Pengelola mal juga dapat menarik perhatian masyarakat dengan kegiatan kreatif lainnya, seperti promo, film, animasi, dan lain-lain.
‘Kita harus menghidupkan kembali dengan kegiatan-kegiatan inovatif. Mungkin bisa berupa musik, ekonomi kreatif lainnya di mal. Bisa juga promo, film, dan animasi. Ini bisa kita hadirkan sehingga daya beli bisa terdorong, terutama di awal bulan saat baru saja gajian,’ ujarnya.
Sandiaga juga menyarankan kepada pemerintah atau pihak terkait untuk mendorong masyarakat, terutama kalangan menengah ke atas, agar kembali berbelanja karena daya beli yang lesu juga disebabkan oleh masyarakat menengah ke atas yang menahan konsumsi.
‘Pemerintah harus jeli melihat bagaimana daya beli yang sedang menurun ini. Kita bisa membalikkannya dengan kerjasama bersama sektor swasta, untuk mendorong kegiatan berbelanja, terutama untuk kelas menengah ke atas. Dengan kelas ini berbelanja, maka ekonomi akan terangkat kembali pada level pertumbuhan yang mencakup seluruh ekonomi nasional,’ ucapnya.
‘Mudah-mudahan ini bisa menjadi inspirasi kerjasama yang lebih erat antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat. Untuk memastikan bukan menjadi rojali rombongan jarang beli, tapi menjadi rojali rombongan yang jadi beli,’ tutup Sandiaga.
(chd/wur)