Jakarta –
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menargetkan agar proyek baterai kendaraan listrik yang dimiliki oleh Zhejiang Huayou Cobalt Co (Huayou) bersama Indonesia Battery Corporation (IBC) dapat selesai di tahun 2027 mendatang.
Investasi untuk proyek ini diperkirakan mencapai sekitar US$ 8 miliar atau setara dengan Rp 131,07 triliun (asumsi kurs Rp 16.379 per US$). Menurut Bahlil, pemerintah akan menyediakan insentif yang menarik untuk proyek ekosistem baterai EV di tanah air, termasuk proyek ini.
“Huayou akan segera beroperasi bersama Antam dan IBC, dengan total investasi sekitar US$ 8 miliar. Jika semuanya berjalan lancar, kita targetkan proyek ini selesai pada akhir 2027,” ujar Bahlil di Hotel Mulia Jakarta, Kamis (7/8/2025).
Huayou menggantikan posisi LG Energy Solution (LGES) dari Korea Selatan, yang mengundurkan diri dari konsorsium dengan IBC, induk perusahaan yang terdiri dari PT Aneka Tambang (Antam), PT Pertamina (Persero), dan PT PLN (Persero).
Pemerintah memutuskan keluarnya LGES dari proyek rantai pasok baterai karena mereka tidak memenuhi komitmen yang sudah disepakati sebelumnya. LGES juga mengundurkan diri dari rencana investasi di tiga joint venture (JV), sementara satu JV lainnya sudah beroperasi dan terus berprogres.
Investasi Huayou di Indonesia
Menteri Investasi dan Hilirisasi atau Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Roeslani, menyatakan bahwa Huayou akan meningkatkan investasinya di Indonesia, termasuk dalam proyek ekosistem baterai EV.
Potensi tambahan investasi Huayou di dalam negeri bisa mencapai US$ 20 miliar atau sekitar Rp 335,56 triliun (asumsi kurs Rp 16.759 per US$).
“Mereka mengungkapkan bahwa potensi investasi dari grup Huayou ini, ke depan, bisa mencapai US$ 20 miliar,” terang Rosan saat ditemui di kantornya, Jakarta, Selasa (29/4/2025).
Menurut catatan Rosan, Huayou telah berinvestasi di Indonesia hingga saat ini dengan nilai US$ 8,8 miliar. Selain itu, Huayou juga berencana mengembangkan proyek di dalam negeri, tepatnya di kawasan industri Weda Bay dan Morowali.
“Mereka ingin mengembangkan lahan industrial park sendiri seperti di Morowali dan Weda Bay. Kita juga berencana mengembangkan di tempat lain, dan lokasinya ada di Pomalaa,” tutupnya.