Para Ilmuwan Sepakat, Tanda Kiamat Semakin Nampak
Jakarta, PANGKEP NEWS – Perubahan iklim semakin parah. Bumi dilaporkan telah memasuki masa titik kritis atau tipping points.
Titik kritis digambarkan sebagai sebuah momen yang dapat mengubah segalanya. Contohnya adalah pencairan es gletser yang lebih cepat atau pengeringan hutan hujan.
Situasi ini terjadi ketika suhu rata-rata global dilaporkan telah melewati batas Perjanjian Paris, yaitu 1,5 derajat Celcius pada tahun 2024 lalu. Tren ini diperkirakan akan terus berlanjut tahun ini, ungkap Organisasi Meteorologi Dunia.
“Setiap kenaikan sepersepuluh derajat di atas 1,5 derajat Celcius meningkatkan titik kritis,” kata peneliti Annika Ernest Häggner dari Potsdam Institute for Climate Impact Research (PIK), Senin (2/6/2025).
Ia menyatakan bahwa kondisi akan semakin memburuk jika suhu melebihi 2 derajat Celcius. Diperkirakan akhir dari pemanasan global akibat perubahan iklim akan mencapai 2,6 derajat Celcius pada akhir abad ini.
15.000 Ilmuwan Sepakat
Sebelumnya, lebih dari 15.000 ilmuwan dari 161 negara memprediksi bencana global yang besar akan terjadi pada akhir abad ini. Mereka menyatakan bahwa perubahan iklim semakin cepat terjadi dan mengancam kelangsungan hidup makhluk di Bumi.
Prediksi ini tercatat dalam sebuah makalah di Jurnal BioScience mengenai perubahan iklim yang mengkhawatirkan.
“Selama beberapa dekade, ilmuwan telah konsisten memperingatkan masa depan yang ditandai dengan kondisi iklim ekstrem akibat peningkatan suhu global yang disebabkan oleh aktivitas manusia yang melepaskan gas rumah kaca berbahaya ke atmosfer,” tulis makalah tersebut.
Peneliti pascadoktoral dari Oregon State University (OSU) dan salah satu penulis utama studi Christopher Wolf mengungkapkan potensi Bumi di masa depan, termasuk risiko bencana kekurangan makanan dan air bersih.
Studi ini mengungkap sejumlah data mengejutkan. Misalnya, tahun 2023 mencatat banyak rekor iklim yang pecah dengan margin besar.
Salah satu yang dirujuk oleh para peneliti adalah musim kebakaran hutan di Kanada yang sangat aktif tahun ini. Kejadian ini menunjukkan titik kritis menuju rezim kebakaran baru.
Salah satu penulis penelitian, Profesor kehutanan terkemuka di OSU, William Ripple juga menambahkan adanya pola yang mengkhawatirkan di tahun 2023. Pola ini bukan kabar baik karena manusia hanya sedikit melakukan perbaikan.
“Kami juga hanya menemukan sedikit kemajuan yang bisa dilaporkan terkait upaya manusia dalam memerangi perubahan iklim,” kata Ripple.
Namun, dampak besar lingkungan ini bukan hanya kesalahan industri bahan bakar fosil saja. Subsidi pemerintah terhadap industri tersebut juga menjadi salah satu penyebab efek tersebut.
Subsidi yang dikeluarkan di Amerika Serikat (AS) antara tahun 2021-2022 meningkat dua kali lipat, dari US$531 miliar menjadi lebih dari US$1 triliun. Untuk mencegah bencana lebih lanjut, para peneliti menyarankan untuk beralih dari bahan bakar fosil dan memerangi konsumsi berlebih oleh orang-orang kaya.